RADARLAMPUNG.CO.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan Provinsi Lampung akan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan kering pada 2026.
Kondisi ini dipicu fenomena El Nino dengan kategori kuat yang berpotensi menimbulkan berbagai dampak, mulai dari kekeringan hingga gangguan produksi pangan.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Radin Inten II Lampung, Rudi Harianto mengatakan, awal musim kemarau di Lampung diprakirakan mulai terjadi pada Mei hingga Juni 2026.
“Sebagian besar wilayah mulai memasuki kemarau pada awal Mei, dengan puncak musim kemarau diprakirakan terjadi pada Juli, Agustus, hingga September,” ujarnya saat diwawancarai secara daring Senin ,6 April 2026.
Ia menjelaskan, pada tahun ini fenomena El Nino yang terjadi tergolong kuat, kondisi tersebut merupakan anomali pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang berdampak pada berkurangnya curah hujan di wilayah Indonesia.
Bahkan, pada 2026, kekuatan El Nino berpotensi meningkat karena bertepatan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif.
Indian Ocean Dipole (IOD) Positif adalah pola iklim yang memengaruhi Samudra Hindia, dimana air hangat didorong ke bagian barat Samudra Hindia, sementara air dingin dari kedalaman dibawa ke permukaan di bagian timur Samudra Hindia.
Kombinasi dua fenomena ini menyebabkan awan hujan tertarik menjauh dari Indonesia ke arah Samudra Pasifik dan Afrika yang kemudian disebut sebagai "Godzilla El Nino".
“Ini yang membuat potensi kemarau menjadi lebih panjang, lebih panas, dan lebih kering dibandingkan kondisi normal,” jelasnya.
BMKG memprediksi sejumlah dampak yang perlu diwaspadai masyarakat.
Di antaranya potensi kekeringan akibat minimnya curah hujan, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta terganggunya produksi pangan, khususnya komoditas padi.
Selain itu, berdasarkan pemetaan kerawanan kekeringan dan dampak El Nino sebelumnya, beberapa wilayah di Lampung diminta meningkatkan kewaspadaan.
Untuk wilayah Lampung bagian selatan dan tengah seperti Lampung Selatan, Lampung Tengah, dan Lampung Timur, berpotensi mengalami penurunan debit air sungai secara signifikan.
Sementara wilayah sentra pangan seperti Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, dan Mesuji juga berisiko terdampak, terutama terkait potensi intrusi air laut ke lahan pertanian jika debit air tawar menurun drastis.
Untuk kawasan perkotaan seperti Bandar Lampung dan Metro, BMKG mengingatkan adanya potensi krisis air bersih serta peningkatan suhu udara yang lebih ekstrem.
Serta wilayah dengan lahan gambut dan kawasan hutan lindung, khususnya di sebagian Lampung Timur dan Taman Nasional juga perlu meningkatkan kewaspadaan tinggi rawan karhutla
Menghadapi kondisi tersebut, ia menghimbau masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini.
Di antaranya dengan menghemat penggunaan air, memperbaiki kebocoran air, serta menampung air hujan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Masyarakat juga diharapkan menggunakan air secara bijak dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca,” katanya.
Khusus bagi petani, ia menyarankan agar melakukan penyesuaian waktu tanam serta memilih komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering, langkah ini dinilai penting untuk meminimalkan risiko gagal panen.
Ia juga mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan mitigasi kebakaran hutan dan lahan.
“Perlu ada langkah antisipasi bersama agar dampak El Nino ini bisa diminimalkan, baik oleh masyarakat maupun pemerintah daerah,” pungkasnya.