Broken Strings Jadi Sorotan Publik, Aurelie Moeremans Bersyukur Masyarakat Sadar Child Grooming

gambar-user/mRvGLMtwO8M8YpVJMRyfoioQcU4vOXo4QdRhyiM0.jpg
⁠Yasmin Faicha - Senin, 12 Jan 2026 - 10:29 WIB
Potret Aurelie Moeremans.
Potret Aurelie Moeremans. - Foto: Instagram/@aurelie

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

RADARLAMPUNG.ID - Beberapa hari belakangan, buku karya Aurelie Moeremans, Broken Strings,  ramai menjadi sorotan publik.

Bercerita tentang kisah kelam yang Aurelie alami di masa remajanya, ia mengungkap pengalamannya menjadi korban child grooming sejak usia 15 tahun.

Aktris berkebangsaan Belgia-Indonesia ini membagikan buku tersebut secara gratis dengan mengunggah soft copy-nya yang bisa diakses melalui link di bio akun Instagram pribadinya, @aurelie.

Dalam buku tersebut, ia bercerita secara rinci tentang perlakuan yang dilakukan oleh mantannya, yang dalam buku disebut sebagai Bobby, kepadanya yang kala itu masih berusia di bawah umur.

Advertisements

Bobby yang dalam kisah tersebut berusia 29 tahun, diceritakan mendekatinya yang masih berusia 15 tahun dengan aksi-aksi manipulatif yang berakhir pada tindakan child grooming yang dilakukannya.

Aurelie bahkan mengungkap secara detail perlakuan kasar yang ia dapatkan, paksaan untuk melakukan hal-hal seksual, hingga bentuk eksploitasi oleh mantan pacarnya itu.

Buku ini segera menjadi sorotan publik, dan netizen mulai menduga dan berspekulasi bahwa Bobby merupakan salah satu mantan Aurelie itu merupakan seorang aktor yang sampai sekarang masih berseliweran di televisi.

Aurelie Bersyukur Masyarakat Lebih Sadar Isu Child Grooming

Advertisements

Melalui unggahan Instagram story-nya, Senin, 12 Januari 2026, Aurelie mengungkap rasa syukurnya terhadap reaksi publik akan buku karyanya itu.

"Aku bersyukur dan senang banget lihat bagaimana Indonesia sudah berkembang." tulis Aurelie membuka statement-nya.

Ia mengungkap bahwa reaksi yang muncul dari publik saat ini berbeda jauh dengan reaksi yang ia dapatkan ketika dahulu mencoba membuka suara soal hal kelam yang dialaminya ini.

"Waktu aku masih sangat muda dan pertama kali coba speak up, respons masyarakat jauh berbeda dengan sekarang." lanjutnya.

Advertisements

Aurelie menyebut bahwa dahulu, publik cenderung melakukan victim blaming, yakni memojokkan korban dibanding menghakimi pelaku.

"Dulu, suara korban sering tenggelam, disalahkan, atau dipelintir. Banyak hal penting justru luput dari perhatian." sambung Aurelie.

Ia melihat saat ini, masyarakat sudah lebih sadar tentang child grooming dan paham tentang adanya relasi kuasa dan hubungan dengan ketimpangan usia.

"Hari ini, aku melihat perubahan itu. Lebih banyak kesadaran tentang grooming. Lebih paham soal relasi kuasa. Lebih banyak empati, lebih sedikit penghakiman." tulisnya.

Advertisements

Sebelumnya, melalui beberapa pernyataan yang ia sampaikan melalui media sosialnya, Aurelie sering menyebut bahwa ia berharap kisahnya ini akan menjadi pembelajaran bagi masyarakat.

Aurelie bahkan mengungkap bahwa ia akan sangat bersedia jika kisahnya ini ingin diangkat menjadi sebuah film agar awareness dari masyarakat semakin meningkat.

)Peserta Magang Kemnaker Batch 1

 

Advertisements

Share:
Editor: Anggi Rhaisa
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements