RADARLAMPUNG.CO.ID - Kesehatan mental anak merupakan hal yang sangat penting namun masih sering terabaikan. Salah satu ancaman yang semakin meresahkan adalah child grooming.
Dilansir dari laman Alodokter, child grooming adalah suatu proses manipulatif yang dilakukan oleh pelaku yang merupakan orang dewasa, dengan tujuan untuk mengeksploitasi anak-anak secara seksual, emosional, atau fisik.
Pelaku, yang disebut dengan groomer, secara manipulatif membangun kedekatan emosional dengan anak di bawah 18 tahun. Child grooming dilakukan secara bertahap dengan cara-cara yang halus, sehungga sulit untuk dideteksi, baik oleh korban maupun orang-orang di sekitar mereka.
Proses child grooming bisa terjadi di berbagai tempat, mulai dari lingkungan rumah, lingkungan sekolah, hingga lingkungan masyarakat. Bahkan, di era digital saat ini, child grooming dapat terjadi melalui media sosial atau game online yang semakin marak.
Kenali Pola-Pola Child Grooming
Sebagai salah satu bentuk pencegahan, kenali pola-pola child grooming berikut.
1. Membangun Kedekatan dan Kepercayaan
Pelaku akan mulai dengan membangun hubungan yang akrab dan sangat dekat dengan korban. Hal ini bertujuan untuk membuat anak merasa nyaman dan memberi kepercayaan kepada pelaku.
2. Memberikan Perlakuan Istimewa
Salah satu cara groomer untuk memperkuat kedekatan dengan korban adalah dengan memberikan perhatian khusus, hadiah, atau hal-hal menyenangkan lainnya kepada korban.
Perlakuan istimewa dari pelaku akan membuat anak merasa dihargai dan diperhatikan, bahkan mungkin mulai merasa spesial, dan tanpa sadar korban sudah dipengaruhi oleh pelaku.
3. Rahasia dan Isolasi
Pada tahap ini, pelaku mulai menciptakan "rahasia" dengan korban. Groomer akan meminta korban menyimpan hal-hal tertentu agar tidak diketahui oleh orang lain, seperti orang tua atau teman sebayanya.
Hal ini akan membuat anak terisolasi, baik dari interaksi dengan teman-temannya, hingga dijauhkan dari keluarganya. Korban akan mulai mengalami perubahan perilaku yang tidak biasa pada tahap ini.
4. Menguji Batasan
Di tahap ini, pelaku mulai menguji sejauh mana anak bisa dipengaruhi dan diperintah. Groomernakan memberikan instruksi atau permintaan yang bertujuan untuk menguji batasan korban.
Karena kedekatan manipulatif yang telah terjalin di tahap sebelumnya, korban mungkin akan mulai menuruti kemauan pelaku, meski hal itu melanggar batasan pribadi mereka.
5. Ancaman dan Intimidasi
Pada tahap akhir, groomerbakan mulai menggunakan ancaman dan intimidasi untuk memastikan korban menuruti kemauannya.
Pelaku dapat mengancam untuk mengungkap rahasia yang telah dibangun sebelumnya atau menakuti korban dengan konsekuensi buruk jika tidak menuruti peruntahnya.
Dampak Child Grooming terhadap Kesehatan Mental Anak
Child grooming yang berujung pada eksploitasi anak secara seksual, fisik, dan emosional akan memberikan dampak jangka panjang bagi kesehatan mental korban.
Korban child grooming bisa mengalami trauma psikologis yang mendalam. Trauma ini bisa mengganggu perkembangan mental anak, bahkan hingga dewasa.
Trauma psikologis yang muncul dari proses grooming yang dilakukan secara berulang dapat membuat korban merasakan kecemasan yang berlebihan. Kecemasan ini bisa berkembang menjadi depresi.
Untuk mencegah terjadinya child grooming, penting bagi orang tua, sekolah, dan masyarakat luas untuk lebih waspada terhadap tanda dan pola yang menunjukkan adanya potensi child grooming.
*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1