BANDAR LAMPUNG— Wacana penerapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di tingkat SMP mulai mengemuka di Lampung
Pelaksanaan TKA SMP di Lampung dijadwalkan pada bulan April 2026 mendatang.
Kabar tersebut ini mencuat menyusul hasil TKA di jenjang SMA/SMK yang dinilai masih rendah.
Khususnya, pada mata pelajaran matematika, serta menuai beragam kritik dari siswa, guru, dan pemerhati pendidikan.
Menanggapi hal tersebut, Pemerhati dan Pengamat Pendidikan Lampung, Gino Vanollie, menegaskan bahwa pelaksanaan TKA di tingkat SMP bisa saja dilakukan, namun dengan catatan penting agar tidak mengulang problem yang sama seperti di jenjang SMA/SMK.
“Jika tujuan pemerintah adalah pemetaan kualitas pendidikan, maka TKA di SMP boleh dipertimbangkan. Tapi jangan sampai tes ini dijadikan syarat kelulusan atau seleksi masuk jenjang berikutnya,” ujar Gino kepada Radar Lampung pada Selasa (13/1).
Pria juga sebagai Ketua Dewan Pakar Forum Masyarakat Guru Indonesia (FMGI) Lampung, juga menyampaikan, pengalaman panjang Indonesia dengan Ujian Nasional (UN) hingga TKA menunjukkan bahwa asesmen berskala besar sering kali berubah fungsi, dari alat evaluasi menjadi alat penentu nasib siswa.
Cukup untuk Pemetaan, Tidak Wajib Diikuti Semua Siswa
Gino menilai, untuk kepentingan pemetaan, TKA tidak perlu diikuti seluruh siswa SMP. Pemerintah dapat menggunakan metode sampling yang lebih efisien dan berbiaya rendah, namun tetap menghasilkan data yang akurat.
“Dengan sampling, hasil tetap bisa dipakai untuk mengevaluasi kebijakan pendidikan dan memperbaiki kinerja pemerintah di bidang pendidikan,” jelasnya.
Siswa SMP Dinilai Lebih Siap, Tapi Tetap Perlu Hati-Hati
Dari sisi kesiapan, Gino menyebut siswa SMP di Lampung relatif lebih siap dibandingkan saat awal pelaksanaan TKA di tingkat SMA/SMK.
“Sosialisasi TKA sudah lebih lama dan intens. Sekolah, siswa, dan para pemangku kepentingan seharusnya sudah belajar dari pengalaman TKA SMA/SMK,” katanya.
Namun, kesiapan teknis saja tidak cukup. Ia mengingatkan agar aspek psikologis siswa tetap menjadi perhatian utama.
Tekanan Psikologis Jadi Catatan Serius
Gino menyoroti bahwa salah satu kelemahan utama TKA SMA/SMK adalah tingginya tekanan psikologis yang dirasakan siswa.
“Pengalaman UN dan TKA sama saja. Ketika asesmen dilakukan dengan tekanan tinggi, hasilnya justru tidak objektif,” ungkapnya.
Ia mengingatkan adanya petisi penolakan TKA, keluhan siswa terkait soal yang tidak sesuai dengan materi sekolah, hingga keterlambatan distribusi kisi-kisi yang membuat persiapan siswa menjadi terburu-buru.
Soal Tak Sesuai Kurikulum, Kompetensi Dipertanyakan
Masalah lain yang disoroti adalah ketidaksesuaian antara materi soal dengan pembelajaran di sekolah.
“Banyak siswa mengaku soal yang diujikan tidak sejalan dengan apa yang mereka pelajari. Kalau begitu, bagaimana kompetensi yang diharapkan bisa tercapai?” tegas Gino.
Ia menekankan bahwa soal TKA SMP harus disusun berdasarkan kurikulum yang berlaku, dengan tingkat kesulitan yang proporsional dan sesuai karakteristik peserta didik.
Tujuan dan Pelaksanaan Dinilai Tak Sejalan
Lebih jauh, Gino menilai terdapat kesenjangan antara tujuan TKA dan pelaksanaannya di lapangan.
Sejumlah laporan media menyebutkan adanya kecurangan, siswa yang tidak serius mengerjakan soal, kebingungan menghadapi soal, hingga berbagai kendala teknis.
“Ini menunjukkan tujuan tes tidak sepenuhnya tercapai di lapangan,” katanya.
Rekomendasi: Jangan Jadikan TKA Penentu Nasib Siswa
Sebagai penutup, Gino menegaskan bahwa jika pemerintah tetap ingin menyelenggarakan TKA, termasuk di tingkat SMP maka tes tersebut harus, difokuskan hanya untuk pemetaan, tidak menjadi syarat kelulusan atau seleksi, dilaksanakan dengan sampling, disusun selaras dengan kurikulum, serta bebas dari tekanan psikologis berlebihan.
"Kalau itu dilakukan, TKA justru bisa menjadi alat evaluasi yang sehat dan bermanfaat bagi perbaikan pendidikan, bukan menjadi beban baru bagi siswa,” pungkasnya. (Gie/