RADARLAMPUNG.CO.ID - Kekhawatiran soal fast charging sering muncul karena satu hal, baterai adalah komponen termahal di mobil listrik.
Wajar jika banyak pemilik bertanya, apakah kebiasaan mengisi daya cepat terus menerus aman, atau justru mempercepat penurunan kesehatan baterai.
Jawabannya tidak hitam putih. Fast charging pada dasarnya aman karena sistem baterai modern sudah dibekali pengatur suhu dan manajemen pengisian.
Namun, data menunjukkan ada konsekuensi bila kebiasaan ini dilakukan terlalu sering, terutama pada pengisian berdaya tinggi.
Analisis Geotab terhadap data baterai dari lebih dari 22.700 kendaraan listrik lintas 21 merek menemukan rata rata degradasi baterai sekitar 2,3 persen per tahun.
Dalam temuan yang sama, kendaraan yang mengandalkan DC fast charging berdaya di atas 100 kW mengalami degradasi lebih cepat, hingga sekitar 3,0 persen per tahun, sementara kendaraan yang mayoritas diisi lewat AC atau daya lebih rendah berada di kisaran 1,5 persen per tahun.
Artinya, fast charging bukan berarti langsung merusak, tetapi intensitas dan dayanya bisa membuat baterai menua lebih cepat dibanding pola pengisian yang lebih lembut.
Pengaruh iklim panas juga ada, tetapi dalam analisis tersebut nilainya lebih kecil, sekitar 0,4 persen per tahun lebih cepat dibanding wilayah beriklim sedang, dan tetap kalah dominan dibanding faktor kebiasaan dan daya pengisian.
Di sisi riset teknis, Idaho National Laboratory pernah menguji dampak pengisian cepat 50 kW pada baterai kendaraan listrik dibanding pengisian AC 3,3 kW, termasuk pengujian sel pada beberapa temperatur untuk melihat efeknya pada penuaan baterai.
Studi seperti ini menegaskan bahwa laju pengisian dan kondisi termal berperan besar terhadap penurunan performa baterai dari waktu ke waktu.
Lalu apa yang sebenarnya terjadi di dalam baterai saat fast charging. Saat arus pengisian tinggi, baterai lebih mudah memanas.
Jika manajemen suhu tidak optimal, reaksi samping di dalam sel bisa meningkat dan resistansi baterai bertambah.
Dalam kondisi tertentu, terutama ketika baterai dingin atau laju pengisian sangat agresif, ada risiko lithium plating pada anoda, yaitu penumpukan litium yang tidak masuk sempurna ke struktur materialnya.
Mekanisme ini banyak dibahas dalam literatur ilmiah sebagai salah satu faktor yang dapat mempercepat degradasi dan menurunkan kapasitas efektif baterai.
Namun, ada juga temuan yang membuat pembaca perlu melihat konteks.
Pada Tesla, laporan berbasis data ribuan kendaraan menyebut tidak ada perbedaan degradasi jarak tempuh yang signifikan antara pemilik yang sering memakai fast charging dan yang jarang, setidaknya pada kelompok kendaraan yang dianalisis.
Hal tersebut menguatkan dugaan bahwa strategi pabrikan, terutama BMS dan pengelolaan temperatur, dapat menahan dampak fast charging pada kondisi tertentu.
Berdasarkan penjelasan tersebut, fast charging boleh dipakai dan memang diciptakan untuk itu, tetapi kalau dipakai setiap hari pada daya tinggi, apalagi sampai penuh terus menerus, peluang baterai lebih cepat turun tetap ada.
Kebiasaan yang paling aman untuk pemakaian harian adalah mengandalkan pengisian AC di rumah atau kantor, lalu gunakan fast charging saat benar benar dibutuhkan, seperti perjalanan jauh atau saat waktu sempit.
Ketika memakai fast charging, banyak pabrikan juga menyarankan tidak mengejar 100 persen terlalu sering, karena fase pengisian mendekati penuh biasanya lebih pelan, lebih panas, dan lebih menekan baterai dibanding berhenti di sekitar 70 sampai 80 persen.
Dengan kata lain, fast charging tidak perlu ditakuti, tetapi sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan kebiasaan utama, terutama jika kamu ingin menjaga kesehatan baterai dalam jangka panjang.
*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1