RADARLAMPUNG.CO.ID – Duka mendalam kembali menyelimuti Korp Marinir TNI AL. Setelah kepulangan Praka Muhammad Kori ke Lampung Timur, kini giliran Kota Bandar Lampung yang melepas salah satu putra terbaiknya.
Jenazah Pratu Marinir Febry Bramantio, anggota Batalyon 9 Marinir yang gugur dalam tragedi longsor di Bandung Barat, akhirnya tiba dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Rabu (28/1).
Sekitar pukul 12.05 WIB, ambulans TNI AL yang membawa peti jenazah berbalut bendera Merah Putih tiba di rumah duka, Jalan Samratulangi No. 192, Kelurahan Gedung Air.
Isak tangis keluarga dan kerabat pecah saat peti tersebut diturunkan oleh rekan-rekan sesama prajurit TNI.
Usai disalatkan di rumah duka, jenazah almarhum diberangkatkan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gang Jeruk.
Prosesi pemakaman dilakukan dengan upacara militer yang khidmat.
Dentuman tembakan salvo ke udara menjadi pengiring perpisahan terakhir, sekaligus bentuk penghormatan tertinggi TNI AL atas jasa dan pengabdian almarhum.
Pratu Febry merupakan satu dari 23 anggota Marinir yang menjadi korban musibah longsor di Cisarua dan Lembang, Sabtu (24/1) lalu, saat tengah menjalani latihan pratugas pengamanan perbatasan RI-Papua Nugini.
Berdasarkan data sementara, empat personel asal Lampung telah ditemukan dalam musibah tersebut, tersebar di Lampung Timur, Lampung Utara, dan Bandar Lampung.
Di mata keluarga, Febry adalah sosok yang baik dan selalu berbakti. Paman almarhum, Harianto, mengenang keponakannya sebagai pribadi yang sangat supel dan memiliki pergaulan luas.
Hal ini terlihat dari pelayat yang terus berdatangan ke rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir.
"Febry itu orangnya supel, bergaul dengan masyarakat banyak. Makanya teman-temannya yang datang tak putus-putus untuk berbelasungkawa," kenang Harianto dengan nada haru.
Almarhum juga memiliki rencana besar dalam kehidupan pribadinya. Harianto mengungkapkan bahwa keponakannya tersebut sebenarnya berencana untuk segera menikah.
Diketahui, sang kekasih merupakan seorang wanita yang berdomisili di Bandung, Jawa Barat. Namun sayang, takdir berkata lain.
Pihak keluarga menceritakan bahwa sesaat setelah mendengar kabar musibah longsor di lokasi latihan Cisarua, mereka sempat menggantungkan harapan.
Doa bersama, yasinan, serta tahlilan terus dipanjatkan dengan harapan ada mukjizat agar Febry ditemukan dalam kondisi selamat.
Namun, harapan itu pupus setelah pihak kesatuan memberikan konfirmasi resmi bahwa Pratu Febry merupakan salah satu personel yang gugur akibat tertimbun material tanah dan bebatuan.
Musibah ini sendiri dipicu oleh cuaca ekstrem berupa hujan deras yang mengguyur kawasan Bandung Barat selama beberapa hari terakhir.
Hingga saat ini, tercatat sudah empat putra terbaik Lampung yang menjadi korban dalam tragedi di medan latihan tersebut telah dipulangkan dan dimakamkan di kampung halaman masing-masing dengan penghormatan militer penuh.
pratu febry bramatio, lampung, tragedi longsor di bandung barat,