RADARLAMPUNG.CO.ID - Kinerja bursa Asia bergerak bervariasi pada Kamis, 29 Januari 2026, dipicu lonjakan kontrak berjangka global yang mendorong sikap hati-hati pelaku pasar kawasan.
Fokus investor mengarah ke Indonesia setelah indeks saham domestik anjlok lebih dari 8% sehari sebelumnya usai MSCI menyampaikan peringatan terkait status pasar.
Dalam keterangannya, MSCI menilai Indonesia berisiko turun dari kategori Emerging Market ke Frontier Market, yang memberi tekanan pada sentimen investor institusional global.
Tekanan kian kuat setelah Goldman Sachs menurunkan peringkat Indonesia menjadi underweight karena mengantisipasi berlanjutnya aksi jual pasif.
Dari Amerika Serikat, bursa Wall Street ditutup mixed dengan S&P 500 terkoreksi tipis dari rekor, sementara NASDAQ menguat menjelang laporan keuangan raksasa teknologi.
Federal Reserve dalam rapat kebijakan pertamanya tahun ini mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5–3,75% sesuai ekspektasi pasar.
The Fed menegaskan arah kebijakan 2026 akan ditentukan meeting by meeting setelah memangkas suku bunga tiga kali sepanjang tahun lalu.
Dalam pernyataan resminya, Federal Reserve menyebut aktivitas ekonomi terus berkembang secara solid meski pertumbuhan tenaga kerja melambat.
Bank sentral AS juga mencatat tingkat pengangguran mulai menunjukkan tanda-tanda stabil di tengah dinamika ekonomi global.
Kondisi nilai tukar dolar AS yang melemah dinilai membantu ekspor, namun berisiko menimbulkan tekanan inflasi dari luar negeri.
Dengan ekonomi tetap sehat dan pasar tenaga kerja relatif stabil, pejabat The Fed tidak melihat urgensi pemangkasan suku bunga lanjutan.
Meski membuka peluang pelonggaran lanjutan, Federal Reserve menegaskan masih membutuhkan keyakinan lebih besar bahwa inflasi menuju target 2%.
Dari dalam negeri, PT RMK Energy Tbk (RMKE) berencana menerbitkan obligasi senilai Rp600 miliar untuk memperkuat struktur pendanaan.
PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) mengumumkan rencana buyback saham dengan nilai maksimal Rp250 miliar.
Sementara itu, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mencatat lonjakan laba bersih 494,72% menjadi Rp234,6 miliar hingga kuartal III 2025.
Secara teknikal, saham ARCI menunjukkan tren bullish jangka pendek dan menengah dengan rekomendasi entry di level 1.935.
Target harga ARCI berada di 2.140 dan 2.250 dengan ancang-ancang stop loss di 1.770.
Saham MBMA juga berada dalam tren bullish dengan rekomendasi entry pada level 725.
Target harga MBMA diproyeksikan di 815 dan 855 dengan ancang-ancang stop loss di 660.