RADARLAMPUNG.CO.ID - Hyundai Motor Group mulai memperluas pemanfaatan robot industri dan robot humanoid di fasilitas produksinya sebagai bagian dari agenda otomasi dan transformasi manufaktur.
Langkah ini memicu reaksi dari serikat pekerja di Korea Selatan yang menyoroti potensi dampak terhadap tenaga kerja manusia.
Isu tersebut mengemuka pada awal 2026, seiring meningkatnya intensitas pembahasan antara manajemen Hyundai dan perwakilan pekerja terkait penerapan teknologi robotika di lini produksi kendaraan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Hyundai memang agresif berinvestasi di sektor robotika.
Sejak mengakuisisi Boston Dynamics pada 2021, grup otomotif asal Korea Selatan itu menjadikan teknologi robot sebagai salah satu pilar masa depan, bersama kendaraan listrik dan mobilitas otonom.
Robot-robot tersebut dikembangkan untuk mendukung berbagai aktivitas manufaktur, mulai dari proses perakitan, logistik internal, hingga pemeriksaan kualitas di pabrik Hyundai dan Kia.
Namun, rencana penerapan robot dalam skala yang lebih luas menuai keberatan dari Hyundai Motor Union, serikat pekerja yang mewakili karyawan pabrik Hyundai.
Terkait hal ini menyebabkan adanya kekhawatiran terkait belum jelasnya batas peran robot, standar keselamatan kerja, serta dampak jangka menengah dan panjang terhadap keberlangsungan pekerjaan manusia.
Dalam pernyataan resminya, menilai adopsi robot perlu disertai komunikasi yang terbuka dan menyeluruh. Mereka meminta kejelasan mengenai bagaimana teknologi tersebut akan diterapkan tanpa mengorbankan hak, keamanan, dan stabilitas kerja para karyawan.
Serikat pekerja juga mendorong adanya perjanjian tertulis yang mengatur penggunaan robot di lingkungan kerja. Kesepakatan tersebut diharapkan mencakup evaluasi risiko, aturan keselamatan, serta program peningkatan keterampilan atau pelatihan ulang bagi pekerja yang terdampak otomasi.
Di sisi lain, Hyundai Motor Group menegaskan bahwa pemanfaatan robot tidak bertujuan menggantikan tenaga kerja manusia.
Perusahaan menyatakan robot dirancang untuk membantu meningkatkan efisiensi dan keselamatan kerja dengan mengambil alih tugas-tugas berisiko tinggi, berulang, atau membutuhkan tingkat presisi tinggi.
Beberapa contoh tugas tersebut meliputi pengangkatan beban berat, pengelasan tertentu, serta inspeksi di area yang berbahaya bagi manusia.
Dengan pendekatan ini, Hyundai berharap dapat menekan angka kecelakaan kerja sekaligus menjaga kualitas produksi.
Hyundai juga menekankan bahwa industri otomotif global tengah menghadapi tekanan besar akibat percepatan teknologi, persaingan kendaraan listrik, dan tuntutan efisiensi rantai pasok.
Dalam kondisi tersebut, otomasi dinilai sebagai langkah strategis agar perusahaan tetap kompetitif di pasar global.
Perusahaan menyebut robotika sebagai alat pendukung yang memungkinkan pekerja manusia berfokus pada tugas bernilai tambah lebih tinggi, seperti pengawasan proses, pemrograman sistem, serta pemeliharaan teknologi.
Meski demikian, kekhawatiran serikat pekerja mencerminkan tantangan yang lebih luas di sektor manufaktur global.
Banyak organisasi buruh di berbagai negara menuntut kepastian regulasi dan perlindungan tenaga kerja di tengah percepatan otomasi dan kecerdasan buatan.
Pemerintah Korea Selatan sendiri mendorong pengembangan robotika sebagai bagian dari strategi ekonomi nasional.
Namun, pemerintah juga menekankan pentingnya transisi yang adil melalui dialog sosial, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan perlindungan terhadap pekerja.
*(Peserta Magang Kemnaker Batch 1