Pangsa Pasar vivo Disalip Rival, Ini Posisi Terbaru di Persaingan HP Indonesia 2025

gambar-user/vsbaohl95I0rY7S5BRF4IPxfUmd3n0dZuZDBnGyU.webp
M. Nabil Mamnun - Selasa, 17 Mar 2026 - 07:30 WIB
Pangsa pasar 15 persen menempatkan vivo sebagai juru kunci di antara lima merek HP terbesar di Indonesia.
Pangsa pasar 15 persen menempatkan vivo sebagai juru kunci di antara lima merek HP terbesar di Indonesia. - instagram/@vivo_indonesia

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

RADARLAMPUNG.CO.ID - Persaingan pasar smartphone di Indonesia sepanjang 2025 semakin ketat.

Di tengah dominasi sejumlah merek besar, vivo tercatat berada di posisi paling belakang di antara lima besar vendor ponsel di Tanah Air.

Berdasarkan laporan lembaga riset Omdia yang dikutip TelecomLead, pangsa pasar smartphone di Indonesia pada 2025 dipimpin oleh Xiaomi dengan 19%.

Posisi berikutnya ditempati Transsion sebesar 18%, disusul Samsung 17% dan OPPO 16%. Sementara itu, vivo berada di posisi kelima dengan pangsa pasar 15%.

Advertisements

Dengan capaian tersebut, vivo menjadi vendor dengan pangsa pasar paling kecil di kelompok lima besar.

Kendati demikian, jarak antarpemain papan atas sebenarnya masih relatif tipis.

Selisih antara peringkat pertama hingga kelima hanya sekitar empat poin persentase, menandakan kompetisi di pasar ponsel Indonesia masih sangat ketat.

Posisi vivo yang berada di urutan kelima menempatkannya di bawah empat pesaing utama, yakni Xiaomi, Transsion, Samsung, dan OPPO.

Advertisements

Dalam pasar yang bergerak sangat dinamis, kondisi ini memperlihatkan bahwa ruang gerak vivo semakin terbatas dibandingkan para rivalnya.

Meski demikian, perusahaan tersebut masih berupaya mempertahankan daya saing dengan menitikberatkan strategi pada segmen tertentu.

Laporan TelecomLead menyebut vivo tetap agresif menghadirkan perangkat 5G kelas menengah hingga entry-level yang menyasar pengguna baru maupun konsumen muda.

“vivo tetap agresif di segmen 5G kelas menengah dan entry-level, dengan menargetkan pengguna yang baru pertama kali beralih ke perangkat 5G serta kelompok usia muda,” demikian dikutip dari laporan TelecomLead.

Advertisements

Strategi ini memperlihatkan bahwa perangkat 5G dengan harga lebih terjangkau menjadi salah satu andalan vivo untuk tetap menarik minat konsumen di Indonesia.

Persaingan yang semakin ketat juga dipengaruhi perubahan pola pasar smartphone di Indonesia.

Menurut analisis Omdia, industri ponsel kini memasuki fase value-first, yaitu periode ketika keputusan pembelian konsumen semakin dipengaruhi nilai keseluruhan produk.

Dalam kondisi tersebut, faktor seperti harga, paket bundling data, pengalaman perangkat lunak, hingga integrasi ekosistem menjadi pertimbangan penting selain spesifikasi perangkat keras.

Advertisements

Artinya, vendor tidak lagi cukup hanya menawarkan spesifikasi tinggi.

Mereka juga harus mampu menghadirkan perangkat yang memberikan nilai yang dianggap sepadan oleh konsumen, terutama di segmen entry-level dan kelas menengah.

Tekanan terhadap vivo tidak hanya terjadi di Indonesia.

Omdia mencatat pengiriman smartphone di kawasan Asia Tenggara mengalami penurunan sekitar 1% secara tahunan pada kuartal III 2025, dengan total pengiriman mencapai sekitar 25,6 juta unit.

Advertisements

Penurunan ini menandai kontraksi selama tiga kuartal berturut-turut di kawasan tersebut. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya biaya komponen dan persaingan antarvendor yang semakin agresif.

Di tingkat regional, vivo tercatat mengirimkan sekitar 2,9 juta unit perangkat dengan pangsa pasar sekitar 11%, menempatkannya di posisi kelima di Asia Tenggara.

Penjualan tersebut didukung kehadiran model baru, terutama dari lini seri Y yang memperkuat segmen menengah perusahaan.

Namun, analis Omdia menilai beberapa vendor, termasuk OPPO dan vivo, kini cenderung lebih fokus pada nilai produk dan profitabilitas dibandingkan sekadar mengejar volume pengiriman.

Advertisements

Dalam situasi pasar yang semakin sensitif terhadap harga, perangkat 5G entry-level menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan minat konsumen.

Perangkat dengan harga lebih terjangkau dinilai mampu menarik pengguna yang baru pertama kali beralih ke jaringan 5G.

Segmen ini juga menjadi arena persaingan utama bagi berbagai merek yang berlomba menghadirkan ponsel dengan harga kompetitif.

Namun tantangan lain muncul dari meningkatnya biaya komponen, terutama memori dan penyimpanan.

Advertisements

Kenaikan harga komponen tersebut membuat vendor harus melakukan penyesuaian strategi produk agar tetap mampu mempertahankan harga jual yang kompetitif.

Menurut Omdia, kondisi ini sangat terasa di kawasan Asia Tenggara karena lebih dari 60% smartphone yang dipasarkan di wilayah ini dijual dengan harga di bawah US$200.

Karakter pasar Indonesia juga turut memengaruhi strategi vendor. Konsumen di Tanah Air dikenal sangat sensitif terhadap harga, sehingga perangkat dengan banderol terjangkau cenderung lebih diminati.

Smartphone 5G di kelas di bawah Rp5 juta menjadi segmen yang paling banyak diburu.

Advertisements

Selain itu, pola pembelian offline dengan dukungan cicilan serta bundling paket data juga menjadi faktor penting yang memengaruhi keputusan pembelian.

Indonesia bersama Filipina disebut sebagai pasar yang sangat peka terhadap harga di kawasan Asia Tenggara.

Kondisi ini membuat persaingan di kelas entry-level dan mid-range semakin intens karena hampir semua vendor berlomba menghadirkan perangkat dengan harga kompetitif.

Perkembangan jaringan 5G juga turut memengaruhi dinamika pasar smartphone di Indonesia.

Advertisements

Ekspansi jaringan oleh operator telekomunikasi, termasuk penguatan jaringan oleh Telkomsel serta konsolidasi operator seperti merger XL Axiata dan Smartfren menjadi XLSMART, ikut mendorong adopsi perangkat 5G.

Di satu sisi, perkembangan tersebut membuka peluang bagi vendor yang memiliki lini ponsel 5G terjangkau.

Namun di sisi lain, kondisi itu juga memperketat persaingan karena hampir semua merek berusaha merebut pengguna baru yang ingin beralih ke perangkat 5G.

Dengan situasi tersebut, posisi vivo di pasar smartphone Indonesia pada 2025 dapat dikatakan berada di bawah tekanan.

Advertisements

Pangsa pasar sebesar 15% memang masih menempatkannya di kelompok lima besar, tetapi persaingan yang semakin ketat membuat segmen 5G entry-level dan kelas menengah menjadi tumpuan utama bagi perusahaan untuk mempertahankan daya saingnya.

*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1

 

Advertisements

Share:
Editor: Ari Suryanto
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements