RADARLAMPUNG.CO.ID - Kebiasaan mengunyah es batu mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang.
Bahkan, banyak yang menganggapnya sekadar cara untuk menyegarkan diri di tengah cuaca panas atau saat merasa bosan.
Namun di balik kebiasaan tersebut, ada kondisi medis yang perlu diwaspadai.
Dalam dunia kesehatan, keinginan terus-menerus untuk mengunyah es batu dikenal sebagai pagophagia yang merupakan bagian dari gangguan makan bernama pica, yaitu dorongan untuk mengonsumsi benda yang bukan makanan.
Menariknya, kebiasaan ini sering dikaitkan dengan anemia defisiensi zat besi.
Keinginan mengunyah es dapat muncul ketika tubuh kekurangan zat besi, bahkan sebelum gejala anemia terlihat jelas.
Meski penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami, para ahli menduga ada kaitan dengan fungsi otak.
Kekurangan zat besi dapat mengurangi suplai oksigen ke otak, sehingga memicu rasa lelah dan kurang fokus.
Mengunyah es diduga membantu meningkatkan aliran darah ke otak, sehingga memberikan sensasi lebih segar dan “terjaga”.
Tak heran jika sebagian orang merasa lebih fokus setelah mengunyah es batu, meskipun efeknya hanya bersifat sementara.
Selain kebiasaan makan es, anemia biasanya juga disertai gejala lain seperti mudah lelah, pusing, kulit pucat, hingga sulit berkonsentrasi.
Jika tanda-tanda ini muncul bersamaan, penting untuk tidak mengabaikannya.
Meski begitu, tidak semua orang yang gemar mengunyah es pasti mengalami anemia.
Dalam beberapa kasus, kebiasaan ini juga bisa dipicu oleh faktor lain seperti stres, gangguan psikologis, kehamilan, atau kondisi mulut yang kering.
Di sisi lain, terlalu sering mengunyah es batu juga berisiko bagi kesehatan gigi. Tekstur es yang keras dapat merusak lapisan enamel, menyebabkan gigi sensitif, bahkan retak jika dilakukan terus-menerus.
Karena itu, penting untuk memperhatikan frekuensi dan pola kebiasaan ini.
Jika dorongan mengunyah es terasa sulit dikendalikan atau berlangsung dalam waktu lama, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan kesehatan, terutama untuk mengecek kadar hemoglobin dan zat besi dalam tubuh.
Kebiasaan kecil yang sering dianggap remeh ternyata bisa menjadi sinyal awal dari kondisi kesehatan yang lebih serius.
Mengenali tanda-tanda tersebut sejak dini menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh.
*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1