Lonjakan Cedera Otak akibat Sepeda dan Skuter Listrik, Studi Ungkap Fakta Mengejutkan

gambar-user/C3ZWmnZKprjS9mSJXwanvQLIyPNICo9u3RZcgA8D.webp
Dwi Rahmawati - Jumat, 17 Apr 2026 - 06:45 WIB
Kasus cedera otak akibat sepeda dan skuter listrik meningkat tajam, keselamatan berkendara kini jadi perhatian utama
Kasus cedera otak akibat sepeda dan skuter listrik meningkat tajam, keselamatan berkendara kini jadi perhatian utama - Freepik/@tonefotografia

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

RADARLAMPUNG.CO.ID – Penggunaan sepeda listrik dan skuter listrik yang semakin populer ternyata membawa dampak serius bagi kesehatan. Sebuah studi terbaru mengungkap adanya peningkatan signifikan kasus cedera otak dan tulang belakang akibat kecelakaan yang melibatkan moda transportasi mikromobilitas tersebut.

Penelitian yang dilakukan di salah satu rumah sakit besar di New York menunjukkan bahwa sekitar 7 persen dari seluruh kasus trauma dalam periode lima tahun terakhir berkaitan dengan sepeda dan skuter listrik. Angka ini mengalami lonjakan tajam, terutama pada tahun-tahun terbaru, seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik ringan di kawasan perkotaan.

Data juga memperlihatkan bahwa lebih dari separuh kasus kecelakaan sepeda dan skuter pada tahun terakhir penelitian melibatkan kendaraan listrik, jauh meningkat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya yang hanya berada di kisaran satu digit.

Kecelakaan paling sering terjadi akibat tabrakan dengan kendaraan bermotor, disusul insiden jatuh dari kendaraan. Dampaknya tidak main-main, sekitar 30 persen pasien mengalami cedera otak traumatis, sementara lebih dari seperempat lainnya mengalami luka pada bagian kepala dan wajah. Bahkan, separuh dari total kasus membutuhkan tindakan operasi.

Advertisements

Mayoritas pasien harus menjalani perawatan di rumah sakit, dengan sebagian di antaranya memerlukan penanganan intensif di ruang ICU. Durasi rawat inap rata-rata berlangsung selama beberapa hari, tergantung tingkat keparahan cedera yang dialami.

Menariknya, pejalan kaki yang tertabrak justru memiliki risiko cedera otak lebih tinggi dibandingkan pengendara itu sendiri. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak kecelakaan tidak hanya membahayakan pengguna kendaraan, tetapi juga orang di sekitarnya.

Studi ini juga menemukan bahwa hanya sebagian kecil pengguna yang memakai helm saat berkendara. Selain itu, faktor lain seperti konsumsi alkohol dan penggunaan kendaraan pada malam hari turut meningkatkan risiko kecelakaan.

Peningkatan kasus ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih memperhatikan aspek keselamatan. Perbaikan infrastruktur seperti jalur khusus sepeda, peningkatan kesadaran penggunaan helm, serta penegakan aturan lalu lintas dinilai dapat membantu menekan angka cedera.

Advertisements

Dengan tren penggunaan kendaraan listrik yang terus meningkat, upaya pencegahan menjadi langkah krusial agar risiko kecelakaan serius, khususnya cedera otak dan tulang belakang, dapat diminimalkan.

(*Peserta Magang Kemnaker Batch

 

 

Advertisements

Share:
Editor: Anggi Rhaisa
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements