Dosen DKV ITERA Wakili Indonesia di Pameran Seni Internasional Thailand, Angkat Isu Ekologi Lampung

gambar-user/aWRzw68Kp8BZUY5GExol1nPBUQXv2XbN4FphsloW.webp
Lia Nanda Agustina - Kamis, 09 Apr 2026 - 22:50 WIB
Dosen DKV Itera PG. Wisnu Wijaya, M.Sn Wakili Indonesia di Pameran Seni Internasional RSS 16 Thailand
Dosen DKV Itera PG. Wisnu Wijaya, M.Sn Wakili Indonesia di Pameran Seni Internasional RSS 16 Thailand - Foto.Dok.Pribadi

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

LAMPUNG SELATAN - Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sumatera (ITERA), PG. Wisnu Wijaya, M.Sn., sukses membawa isu lingkungan Lampung ke panggung dunia.

Ia tampil dalam ajang bergengsi RSS 16th International Creative Arts Workshop and Exhibition 2026 yang diselenggarakan di Faculty of Fine and Applied Arts, Rajamangala University of Technology Thanyaburi, Thailand belum lama ini.

Kegiatan residensi dan pameran internasional ini merupakan forum besar yang diikuti sekitar 100 seniman dari 20 negara, dengan rangkaian acara yang berlangsung di tiga provinsi di Thailand.

Dalam ajang tersebut, Wisnu Wijaya tidak tampil sendiri. Ia didampingi oleh Sito Fossy Biosa, M.Sn., dosen DKV-Animasi Binus University sekaligus mahasiswa S3 ISRD Institut Teknologi Bandung (ITB). 

Advertisements

Keduanya menjadi representasi akademisi dan seniman Indonesia yang menampilkan karya visual berbasis kanvas.

Karya yang ditampilkan Wisnu mencuri perhatian lewat pengangkatan isu ekologis yang berakar dari kegelisahan pribadinya terhadap kerusakan lingkungan. Secara spesifik, ia menyoroti hubungan antara manusia dan gajah di Lampung.

Dalam karyanya, Wisnu merepresentasikan bumi sebagai sosok Ibu Pertiwi dalam wujud figur perempuan.

Figur tersebut dikelilingi oleh gajah sebagai simbol tumpang tindih kepentingan ekologi dan ekosistem.

Advertisements

"Isu ini berangkat dari kegelisahan tentang kerusakan ekologis modern. Bumi saya representasikan sebagai sosok perempuan, sementara gajah adalah simbol relasi manusia dan ekosistem sekaligus memori kolektif saya sebagai seniman di Lampung," ujar Wisnu.

Ia menambahkan, pengalaman melihat gajah yang dahulu hidup berdampingan dengan manusia namun kini sering berkonflik menjadi pengalaman emosional yang ia olah menjadi karya visual sebagai bentuk perawatan identitas.

Sentuhan Humanis di Tengah Gempuran AI

Di tengah maraknya teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Wisnu menegaskan bahwa seni rupa murni tetap memiliki kekuatan yang tak tergantikan.

Advertisements

"Fine art memiliki benteng kuat karena pengalaman emosional dan cara berpikir artistik tidak bisa sepenuhnya digantikan AI. Teknologi tetap bisa menjadi tools untuk membantu ide, namun rasa tetap ada pada manusia," jelasnya.

Senada dengan Wisnu, Sito Fossy Biosa melihat adanya kemiripan budaya yang kuat antara Indonesia dan Thailand. Hal ini terlihat dari simbol-simbol visual seperti gajah, kuil, dan ornamen yang memiliki kedekatan filosofis.

Visi untuk Ekosistem Seni Lampung

Melalui residensi ini, Wisnu berharap seniman-seniman di Lampung dapat lebih aktif merambah kancah internasional. Ia bermimpi Lampung memiliki ekosistem seni yang mandiri dan kuat.

Advertisements

"Lampung perlu membuka peluang residensi bagi seniman luar dan mengirim seniman lokal ke luar negeri. Kita harus mulai menumbuhkan galeri seni lokal agar ke depan Lampung bisa memiliki art fair sendiri," tegasnya.

Keikutsertaan dosen ITERA ini menjadi langkah krusial dalam memperkenalkan perspektif seni visual Lampung di kancah global, sekaligus memperkokoh posisi seniman tanah air di forum seni kontemporer dunia.

 

Advertisements

Share:
Editor: Anggi Rhaisa
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements