RADARLAMPUNG.CO.ID - Kewaspadaan terhadap potensi El Nino ekstrem mulai ditingkatkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung guna menghadapi ancaman musim kemarau panjang tahun ini.
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengingatkan seluruh kabupaten dan kota segera melakukan langkah antisipasi.
Hal itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi bersama bupati dan wali kota se-Lampung di Gedung Pusiban pada Jumat, 10 April 2026.
Langkah ini menyusul prakiraan BMKG yang menyebut musim kemarau di Lampung dimulai Mei 2026 dengan puncak Juli hingga September.
“Kalau pepatah bilang sedia payung sebelum hujan, maka menghadapi El Nino ini kita harus sedia water tank sebelum kemarau panjang,” ungkap Jihan.
Fenomena yang disebut El Nino ekstrem atau Godzilla diperkirakan membawa dampak serius.
Dampak tersebut meliputi kekeringan, krisis air bersih, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan.
“Ini bukan untuk menakuti, tapi memang sudah menjadi informasi publik dan harus kita antisipasi bersama,” tegas Jihan Nurlela.
Hampir seluruh sektor diperkirakan terdampak, mulai dari pertanian, perkebunan, hingga permukiman.
Pemerintah daerah diminta segera melakukan mitigasi sejak dini, terutama di wilayah rawan kekeringan.
Jihan mengingatkan, capaian produksi pertanian Lampung tidak boleh terganggu dampak El Nino.
Produksi padi Lampung sebelumnya meningkat dari 2,73 juta ton GKG pada 2024 menjadi 3,25 juta ton pada 2025.
“Jangan sampai produktivitas yang sudah kita capai ini justru menurun karena El Nino,” pesannya.
Penguatan sumber daya air menjadi prioritas melalui optimalisasi pompa air, sumur bor, dan embung.
Sektor pertanian diminta mempercepat tanam April hingga Juni serta menggunakan varietas tahan kekeringan.
Optimalisasi program asuransi usaha tani juga menjadi bagian dari langkah antisipasi.
Di sektor sumber daya air, fokus diarahkan pada distribusi air bersih dan penyediaan irigasi darurat.
Sinergi lintas instansi seperti PDAM dan balai besar wilayah sungai juga diperkuat.
Ancaman kebakaran hutan dan lahan menjadi perhatian serius di sejumlah wilayah rawan.
Wilayah tersebut antara lain Lampung Timur, Mesuji, Lampung Tengah, dan Lampung Selatan.
“Perlu penguatan patroli hotspot, pembentukan satgas karhutla, serta pengawasan ketat terhadap aktivitas pembakaran lahan,” pintanya.
Potensi peningkatan kasus ISPA akibat debu musim kemarau juga menjadi perhatian sektor kesehatan.
Dinas Kesehatan dan Puskesmas diminta meningkatkan kesiapsiagaan serta pemantauan penyakit.
Distribusi air bersih juga menjadi bagian dari langkah antisipasi dampak kesehatan.
BPBD dan Bappeda diminta rutin melakukan koordinasi dan monitoring kesiapsiagaan daerah.
Kesiapan penetapan status darurat juga perlu disiapkan jika situasi memburuk.
Pemprov Lampung menargetkan kesiapan maksimal untuk menekan risiko kekeringan dan karhutla.
“Jangan sampai El Nino ini menjadi ancaman besar bagi ketahanan pangan dan pembangunan daerah,” tegas Jihan.