RADARLAMPUNG.CO.ID - Ikan sapu sapu selama ini dikenal sebagai 'pengganggu' di perairan perkotaan, termasuk di Jakarta.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahkan melakukan penertiban besar-besaran terhadap spesies ini karena dinilai merusak keseimbangan ekosistem sungai dan selokan.
Populasinya yang cepat berkembang membuat ikan ini dianggap invasif dan mengancam keberadaan ikan lokal.
Namun, pandangan tersebut ternyata berbeda jauh jika melihat kondisi di wilayah lain dunia.
Di kawasan Amazon, ikan Sapu Sapu justru memiliki nilai ekonomi dan konsumsi yang tinggi.
Di negara seperti Peru dan Ekuador, ikan sapu sapu yang dikenal dengan nama lokal “carachama” menjadi salah satu sumber protein yang cukup populer di kalangan masyarakat.
Di berbagai wilayah Amazon seperti Amazonas, Loreto, hingga Ucayali, ikan ini tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi kuliner setempat.
Carachama dikenal memiliki daging berwarna putih dengan tekstur lembut, sehingga banyak disukai.
Ukurannya pun cukup ideal untuk konsumsi, dengan panjang rata-rata sekitar 30 sentimeter dan berat mencapai 300 gram saat dewasa.
Menariknya, ikan sapu sapu ini juga dikenal sebagai spesies yang cukup tahan lama dibandingkan ikan lain di wilayah Amazon.
Hal ini membuatnya semakin mudah dibudidayakan atau ditangkap sebagai bahan pangan.
Masyarakat lokal, terutama dari etnis Kichwa dan kelompok mestizo, bahkan mengolahnya menjadi hidangan khas yang sudah diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu olahan yang cukup terkenal adalah sup tradisional berbahan dasar ikan ini, yang dikenal sebagai caldo de carachama atau chilcano de carachama.
Hidangan tersebut biasanya dimasak dengan cara sederhana, menggunakan ikan utuh yang direbus bersama bumbu seperti bawang putih, garam, paprika manis, serta rempah khas Amazon seperti sachaculantro.
Proses memasaknya relatif singkat, namun menghasilkan kuah yang kaya rasa.
Sup ini sering disajikan bersama bahan pendamping seperti yucca rebus atau pisang tanduk, lengkap dengan sambal khas berbahan buah cocona dan cabai lokal.
Di kalangan masyarakat setempat, hidangan ini bahkan dipercaya memiliki manfaat tambahan sebagai makanan penambah stamina dan membantu mengatasi anemia.
Tidak hanya dagingnya, bagian lain dari ikan ini juga dimanfaatkan. Telur carachama yang berwarna kuning hingga oranye terang dikenal memiliki kandungan nutrisi tinggi.
Bahkan, dalam beberapa tradisi lokal, telur tersebut dikonsumsi langsung dan dianggap sebagai hidangan istimewa.
Perbedaan perlakuan terhadap ikan sapu-sapu ini menunjukkan bahwa nilai suatu spesies sangat bergantung pada lingkungan dan cara pengelolaannya.
Di perairan yang tercemar seperti di kota besar, ikan ini lebih sering dianggap sebagai hama. Sebaliknya, di lingkungan yang masih bersih seperti Amazon, ikan yang sama justru menjadi sumber pangan bernilai.
Fenomena ini sekaligus membuka perspektif baru bahwa ikan sapu sapu sebenarnya memiliki potensi, asalkan berasal dari habitat yang sehat dan dikelola dengan baik.
Dengan pendekatan yang tepat, spesies ikan sapu sapu ini yang dianggap masalah di satu tempat bisa menjadi sumber manfaat di tempat lain.
*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1