RADARLAMPUNG.CO.ID - Di tengah hiruk-pikuk kawasan Menteng yang modern, berdiri sebuah rumah tua yang menyimpan jejak penting sejarah bangsa.
Beralamat di Jalan Cikini Nomor 82, bangunan bergaya kolonial ini dahulu merupakan kediaman Ahmad Soebardjo, tokoh sentral dalam perumusan kemerdekaan Indonesia sekaligus Menteri Luar Negeri pertama Republik Indonesia.
Dari balik pagar besi, rumah ini langsung mencuri perhatian. Arsitekturnya megah namun bersahaja, dengan nuansa kolonial yang masih terawat nyaris tanpa cela.
Tak banyak yang menyangka, bangunan yang kini dikenal sebagai Cikini 82 telah berdiri sejak tahun 1860 dan pernah menjadi saksi awal perjalanan diplomasi Indonesia pascakemerdekaan.
Selepas Proklamasi 1945, rumah ini sempat difungsikan sebagai kantor pertama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
Di sinilah berbagai pemikiran dan keputusan penting dirumuskan, menjadikan Cikini 82 bukan sekadar rumah tinggal, tetapi juga ruang sejarah yang hidup.
Kini, kepemilikan rumah telah berpindah tangan dan berada di bawah pengelolaan Lukas Budiono, seorang advokat.
Meski demikian, keaslian bangunan tetap dijaga dengan ketat.
Tata ruang, lantai keramik, hingga detail interiornya dipertahankan sesuai kondisi aslinya, seolah waktu berhenti berputar di dalam rumah tersebut.
Berdiri di atas lahan seluas hampir 3.000 meter persegi, kompleks Cikini 82 terdiri dari tiga bangunan utama: Main House, East Pavilion, dan West Pavilion.
Ketiganya membentuk satu kesatuan ruang yang kini difungsikan sebagai area seni, pameran, dan ruang budaya.
Di Main House, pengunjung dapat menyaksikan langsung ruang kerja Ahmad Soebardjo yang masih terjaga dengan baik.
Rak-rak buku tua berisi koleksi bacaan langka menjadi saksi bisu perjalanan intelektual sang tokoh. Area ini diberi pembatas agar tetap terlindungi sebagai ruang privat bersejarah.
Tak jauh dari sana, terdapat ruang tamu dan ballroom yang dindingnya dipenuhi karya seni rupa dari maestro Indonesia.
Nama-nama besar seperti Affandi, Lee Man Fong, Hendra Gunawan, Widayat, Dullah, hingga Walter Spies menghiasi ruangan, menghadirkan dialog antara sejarah, seni, dan estetika.
Kompleks rumah ini juga dilengkapi pendopo, mushola, kantor kecil, serta fasilitas umum yang menunjang kenyamanan pengunjung.
Furnitur antik seperti lampu gantung klasik, meja kayu tua, kursi berornamen, dan rak buku lawas semakin memperkuat atmosfer kolonial yang tenang dan reflektif.
Rumah ini bukan sekadar tempat kunjungan, melainkan ruang kontemplasi tentang perjalanan bangsa yang dibingkai dalam keindahan arsitektur dan seni.
Bagi masyarakat yang ingin berkunjung, lokasi Cikini 82 terbilang mudah diakses.
Pengunjung dapat menggunakan KRL dan turun di Stasiun Cikini, melanjutkan perjalanan singkat dengan berjalan kaki.
Alternatif lain adalah bus TransJakarta rute 5M dan 6H, atau layanan JakLingko Jak10A.
*Peserta Magang Kemnaker Batch 1