RADARLAMPUNG.CO.ID - Telkomsel menegaskan bahwa pengembangan jaringan 5G dilakukan secara terukur agar tidak mengorbankan kualitas layanan 4G yang hingga kini masih menjadi andalan mayoritas pelanggan di Indonesia.
Strategi ini ditempuh sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam menjaga pengalaman pengguna tetap optimal di tengah transisi menuju teknologi generasi terbaru.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Juanita Erawati, VP Global Network Operation Telkomsel, di sela-sela agenda persiapan Ramadan dan Lebaran.
Ia menekankan bahwa lonjakan adopsi perangkat 5G berpotensi menyedot alokasi spektrum dan kapasitas jaringan 4G apabila tidak direncanakan secara cermat.
Menurut Juanita, perusahaan tidak ingin ekspansi teknologi baru justru berdampak pada penurunan kualitas layanan yang saat ini sudah dinikmati jutaan pelanggan 4G.
Oleh karena itu, setiap langkah perluasan 5G selalu mempertimbangkan efisiensi jaringan dan keberlanjutan kualitas layanan eksisting.
Ia menjelaskan, kebutuhan terhadap 5G umumnya muncul dalam tiga kondisi utama. Pertama, saat pelanggan membutuhkan kecepatan data tinggi di atas 60 Mbps untuk aktivitas berat seperti streaming resolusi tinggi atau komputasi awan.
Kedua, ketika dibutuhkan latensi sangat rendah yang krusial untuk robotika maupun otomasi industri. Ketiga, pada implementasi Internet of Things (IoT) berskala besar dengan potensi koneksi lebih dari satu juta perangkat dalam satu wilayah.
Jika tiga kebutuhan tersebut belum menjadi dominan di suatu area, maka jaringan 4G dinilai masih memadai untuk menunjang aktivitas digital masyarakat.
Hal ini menjadi dasar pendekatan bertahap yang diterapkan perusahaan dalam memperluas cakupan 5G.
Sejauh ini, Telkomsel telah menghadirkan layanan 5G secara komersial di sejumlah kota besar dengan memanfaatkan pita frekuensi yang tersedia.
Namun, penetrasi perangkat yang mendukung 5G serta pemanfaatan di sektor industri masih dalam tahap pertumbuhan.
Juanita menambahkan bahwa kolaborasi dengan produsen perangkat menjadi elemen penting agar investasi jaringan dapat dimanfaatkan maksimal.
Tanpa dukungan ekosistem perangkat dan aplikasi yang relevan, perluasan jaringan dinilai belum akan memberikan dampak signifikan.
Di sisi lain, trafik data nasional terus meningkat setiap tahun, didorong oleh konsumsi video streaming, media sosial, hingga layanan berbasis cloud.
Kondisi ini membuat optimalisasi jaringan 4G tetap menjadi prioritas utama, mengingat sebagian besar lalu lintas data masih berjalan di jaringan tersebut.
Dari aspek bisnis, investasi jaringan 5G memerlukan belanja modal besar sehingga harus dihitung dengan matang.
Telkomsel menilai, pengembangan 5G sebaiknya berjalan seiring dengan hadirnya aplikasi yang benar-benar memanfaatkan keunggulan teknologi tersebut, termasuk solusi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan otomasi industri.
Perusahaan berharap ekosistem digital berbasis 5G, termasuk layanan AI dan IoT, dapat berkembang lebih cepat agar investasi yang telah dikeluarkan memberikan nilai tambah optimal.
Dengan demikian, percepatan adopsi 5G tidak hanya bergantung pada perluasan cakupan, tetapi juga pada kematangan use case di berbagai sektor.
Ke depan, arah ekspansi 5G Telkomsel akan dipengaruhi oleh pertumbuhan perangkat kompatibel serta meningkatnya kebutuhan akan koneksi berkecepatan tinggi dan latensi rendah.
Dengan strategi ini, Telkomsel berupaya menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi, keberlanjutan bisnis, dan kepuasan pelanggan.
*(Peserta Magang Kemnaker Batch 1