BANDAR LAMPUNG - Selain menyandang predikat sebagai 'motor sejuta umat' karena populasinya yang sangat masif di jalanan, Honda BeAT ternyata memegang peran krusial dalam sejarah otomotif tanah air.
Motor Honda Beat ini disebut-sebut sebagai pelopor teknologi enhanced Smart Power (eSP) di kelas skutik kompak (entry-level 110cc).
Langkah PT Astra Honda Motor (AHM) menyematkan mesin eSP pada All New Honda BeAT pada akhir 2014 silam langsung mengubah cetak biru (blueprint) pasar sepeda motor murah di Indonesia.
Teknologi canggih yang awalnya hanya dinikmati oleh skutik kelas atas berbadan besar seperti Honda PCX 150 dan Vario 125, tiba-tiba dibawa ke segmen pasar yang paling terjangkau.
Langkah berani inilah yang memicu demokratisasi teknologi tinggi di pasar roda dua.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut adalah alasan utama mengapa Honda BeAT memegang predikat kuat sebagai pelopor eSP di kelas kompak.
1. Selamat Tinggal Suara Kasar 'Bletakkk' saat Starter
Bagi pengguna Honda BeAT generasi karburator maupun PGM-FI awal, suara hentakan keras saat menghidupkan motor tentu sudah tidak asing lagi.
Suara khas yang sering diplesetkan konsumen sebagai bunyi 'bletakkk' ini berasal dari dinamo starter konvensional.
Hadirnya mesin eSP membawa teknologi Alternating Current Generator (ACG) Starter ke kelas entry-level.
Dengan memanfaatkan magnet mesin untuk memutar kruk as secara langsung tanpa gir mekanis, proses menyalakan mesin Honda BeAT berubah total menjadi sangat halus dan senyap tanpa suara sama sekali.
2. Pionir Fitur Idling Stop System (ISS) di Kelas Murah
Integrasi ACG Starter pada mesin eSP membuka jalan bagi pengaplikasian fitur Idling Stop System (ISS) pada varian tertinggi Honda BeAT.
Fitur cerdas ini otomatis mematikan mesin saat motor berhenti lebih dari 3 detik misalnya saat menunggu lampu merah di jalanan protokol Bandar Lampungdan mesin akan langsung menyala kembali hanya dengan memutar selongsong gas.
Pada masanya, belum ada kompetitor di kelas kompak yang mampu menawarkan fitur penghemat bbm secerdas ini secara massal.
3. Arsitektur Mesin dengan Komponen Minim Gesekan (Low Friction)
Filosofi utama dari eSP adalah memaksimalkan efisiensi energi dengan mengurangi tenaga yang terbuang sia-sia akibat gesekan internal mesin.
Honda BeAT eSP mempelopori penggunaan tiga komponen internal canggih berskala mikro di kelasnya, yakni.
Offset Cylinder: Posisi silinder dibuat agak bergeser dari poros kruk as untuk meminimalkan gesekan antara piston dan dinding silinder saat langkah ekspansi.
Roller Rocker Arm: Menggunakan bantalan jarum (roller) kecil pada pelatuk klep demi memperingan kerja poros bubungan (camshaft).
Spiny Sleeve: Dinding luar selongsong (liner) silinder dibuat bertekstur kasar seperti kulit jeruk untuk mengoptimalkan pelepasan panas, sehingga suhu mesin tetap stabil saat dipakai jarak jauh.
4. Mematahkan Stigma 'Motor Irit Pasti Loyo'
Sebelum era eSP, ada anggapan di masyarakat bahwa motor yang disetting sangat irit biasanya memiliki performa yang kurang bertenaga.
Namun, Honda BeAT eSP berhasil mematahkan stigma tersebut.
Perpaduan sistem injeksi PGM-FI yang disempurnakan dengan arsitektur eSP menghasilkan akselerasi yang tetap lincah dan responsif untuk stop-and-go di perkotaan, namun dengan konsumsi bahan bakar yang ekstra hemat, bahkan mampu menembus angka di atas 60 km/liter pada pengujian internalnya.
Melalui pembuktian massal pada akhir tahun 2014, Honda BeAT menegaskan bahwa motor kompak dan berharga terjangkau pun berhak mendapatkan teknologi mesin tingkat tinggi yang halus, ramah lingkungan, dan super irit.
Keberhasilan Honda BeAT eSP inilah yang kemudian menjadi standar baru bagi industri roda dua di Indonesia, sekaligus memaksa para kompetitor di kelasnya untuk ikut menaikkan standar fitur pada lini skutik murah mereka.