RADARLAMPUNG.CO.ID - Diabetes Melitus (DM) menjadi salah satu penyakit tidak menulae yang penderitanya terus meningkat tiap tahunnya. Penyakit ini masuk dalam kelompok penyakit metabolik.
Mengutip dari laman resmi Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI, kondisi ini ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi, diakibatkan oleh kelainan dalam produksi insulin, kerja insulin, ataupun keduanya.
Insulin merupakan sebuah hormon yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan kadar gula dara yang dilepaskan dalam darah serta membantu glikasi masuk ke dalam sel.
Diabetes yang tidak dideteksi sejak dini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, hingga gangguang penglihatan.
Penyakit ini bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia, tapi ada beberapa kelompok usia yang lebih rentan, yakni lansia 40 tahun ke atas, remaja, dan wanita usia subur.
Faktor Risiko Diabetes Melitus
Selain adanya kelompok usia rentan yang bisa terserang diabetes, terdapat juga faktor-faktor risiko dari diabetes.
Kemenkes mengungkap bahwa ada dua klasifikasi faktor risiko, yakni faktor risiko yang bisa diubah dan tidak bisa diubah.
1. Faktor risiko yang bisa diubah, meliputi kelebihan berat badan (obesitas), kurang aktivitas fisik, kolesterol tinggi, diet tak seimbang, hipertensi, dan riwayat penyakit jantung.
2. Faktor risiko yang tak bisa diubah, yakni berusia lebih dari 40 tahun, memiliki keluarga dengan riwayat diabetes melitus, riwayat kehamilan dengan diabetes melitus, dan bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2 kg atau lebih dari 4 kg.
Gejala Diabetes Melitus
Agar tetap waspada, penting untuk mengetahui gejala utama yang sering datang karena penyakit ini. Sebuah infografis dari Kemenkes membahas tentang gejala diabetes melitus, yakni:
1. Gejala Utama
Gejala utama yang sering muncul pada penderita diabetes melitus adalah sering kencing (poliuri), cepat lapar (polifagia), dan sering haus (polidipsi).
Poliuri terjadi karena ginjal berusaha membuang kelebihan gula melalui urin. Kemudian, polifagia adalah kondisi ketika tubuh tidak dapat memanfaatkan glukosa secara efisien sebagai energi. Sementara, polidipsi terjadi karena tubuh kehilangan banyak cairan akibat sering buang air kecil.
2. Gejala Tambahan
Gejala berikut bisa menyertai atau muncul secara perlahan, yakni berat badan turun cepat tanpa penyebab yang jelas, kesemutan, gatal di daerah kemaluan bagi wanita, bisul yang hilang timbul, penglihatan kabur, cepat lelah, muncul keputihan pada wanita, luka sulit sembuh, mudah mengantuk, dan impotensi pada pria.
Gejala-gejala di atas menandakan bahwa pemeriksaan gula darah harus segera dilakukan. Seringkali, gejala tersebut diabaikan begitu saja karena kemunculannya yang bertahap.
*Peserta Magang Kemnaker Batch 1