Beli Motor Baru? Jangan Abaikan Inreyen, Ini Tips Aman di Masa Pemakaian Awal

gambar-user/vsbaohl95I0rY7S5BRF4IPxfUmd3n0dZuZDBnGyU.webp
M. Nabil Mamnun - Selasa, 06 Jan 2026 - 18:37 WIB
Pemilik motor baru disarankan melakukan inreyen agar komponen beradaptasi dan performa lebih stabil.
Pemilik motor baru disarankan melakukan inreyen agar komponen beradaptasi dan performa lebih stabil. - instagram.com/@tvsmotorindonesia

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

RADARLAMPUNG.CO.ID - Pemilik motor baru sering langsung ingin merasakan performa maksimal begitu unit keluar dari dealer. 

Tidak sedikit yang “gaspol” sejak hari pertama, apalagi kalau motor yang dibeli model terbaru atau naik kelas dari motor lama.

Padahal, fase awal pemakaian justru menjadi periode penting yang menentukan kenyamanan, performa, hingga usia pakai komponen dalam jangka panjang.

Di Indonesia, istilah inreyen masih sering diperdebatkan.

Advertisements

Ada yang menganggap motor modern sudah presisi sehingga tidak perlu, tetapi banyak panduan pabrikan dan pelaku industri tetap menyarankan proses adaptasi di awal pemakaian.

Intinya, inreyen bukan soal “ritual” khusus, melainkan kebiasaan berkendara dan perawatan yang lebih tertib pada 500–1.000 km pertama agar komponen bekerja optimal dan tidak cepat aus.

Pandangan itu juga ditekankan oleh praktisi dari jaringan diler Honda.

Wahyu Budhi, Training Analyst PT Wahana Makmur Sejati, menyebut langkah inreyen tetap dianjurkan untuk mencegah masalah di kemudian hari.

Advertisements

“Namun alangkah lebih baiknya jika konsumen juga melakukan inreyen untuk memaksimalkan performa dan mencegah terjadinya kerusakan komponen,” kata Wahyu Budhi.

Berikut yang dianjurkan dan yang sebaiknya dihindari saat baru pertama membeli motor, sekaligus menjawab apakah inreyen masih perlu dilakukan.

Yang Dianjurkan Dilakukan Saat Motor Baru

1. Ikuti Buku Pedoman Pemilik dan Jadwal Servis Awal

Advertisements

Hal paling aman dan paling penting adalah mengikuti panduan resmi dari pabrikan. 

Setiap merek dan model bisa memiliki rekomendasi berbeda, mulai dari pembatasan kecepatan, cara pembukaan gas, hingga kapan servis pertama dilakukan.

Banyak pemilik motor justru melewatkan hal ini karena merasa motor baru pasti “aman-aman saja”.

Padahal, jadwal servis awal termasuk pengecekan dan penggantian oli biasanya dibuat untuk memastikan mesin dan komponen bergerak lain beradaptasi dengan baik.

Advertisements

2. Gunakan Gaya Berkendara Halus pada 500–1.000 Km Pertama

Masa inreyen umumnya berada pada rentang 500–1.000 km awal pemakaian.

Pada fase ini, pembukaan gas sebaiknya dilakukan perlahan, tidak agresif, dan sebisa mungkin menjaga ritme berkendara tetap halus.

Tujuannya agar komponen mesin, transmisi, serta bagian yang bergerak dapat “settle” secara bertahap.

Advertisements

Kebiasaan sederhana seperti tidak menahan putaran tinggi terlalu lama juga membantu mengurangi risiko gesekan berlebih saat komponen masih beradaptasi.

3. Pastikan Oli dan Servis Pertama Tepat Waktu

Oli adalah “penjaga nyawa” mesin, terutama saat fase adaptasi awal.

Karena itu, pemilik motor baru sebaiknya disiplin menjalankan servis pertama dan mengganti oli sesuai jadwal yang dianjurkan.

Advertisements

Banyak kasus penurunan performa atau bunyi-bunyi halus di awal pemakaian bisa dicegah hanya dengan perawatan oli yang tepat.

Servis pertama juga biasanya mencakup pengecekan ulang kekencangan komponen tertentu yang masih dalam proses penyesuaian.

4. Biasakan Diri dengan Karakter Motor Baru

Selain mesin yang beradaptasi, pengendara juga harus menyesuaikan diri.

Advertisements

Motor baru bisa punya respons gas, gaya pengereman, suspensi, hingga posisi berkendara yang berbeda dari motor sebelumnya.

Membiasakan diri secara bertahap membuat perjalanan lebih aman, mengurangi risiko salah kontrol, sekaligus membantu pemilik memahami batas motor saat manuver, akselerasi, dan pengereman.

5. Cek Tekanan Ban, Rem, dan Komponen Dasar Secara Berkala

Hal sederhana yang sering dilupakan pemilik motor baru adalah pemeriksaan dasar, seperti ekanan angin ban, kondisi rem, lampu, dan baut-baut tertentu. 

Advertisements

Pada masa awal pemakaian, komponen bisa mengalami proses “settling”, sehingga pengecekan ringan membantu mencegah masalah kecil berkembang menjadi gangguan.

Tekanan ban yang ideal juga membuat handling lebih stabil dan konsumsi bahan bakar lebih efisien.

Yang Sebaiknya Dihindari Saat Motor Baru

1. Jangan Langsung Gaspol atau Mengejar Top Speed

Advertisements

Kesalahan paling umum adalah memaksa motor baru dipacu kencang sejak hari pertama.

Mesin dan komponen bergerak lain masih dalam fase adaptasi, sehingga pembebanan ekstrem bisa mempercepat kehausan dan memicu masalah di kemudian hari.

Selain itu, dari sisi keselamatan, motor baru juga membutuhkan penyesuaian karakter berkendara, sehingga ngebut di awal justru meningkatkan risiko kecelakaan.

2. Hindari Berkendara Agresif dan Pengereman Mendadak

Advertisements

Gaya berkendara agresif seperti akselerasi mendadak, menikung kasar, serta pengereman ekstrem sebaiknya dihindari pada masa awal pemakaian.

Selain menambah beban pada mesin, kebiasaan ini juga menguji sistem rem dan ban secara berlebihan ketika kondisi kendaraan masih adaptasi.

Pengereman mendadak yang terlalu sering dapat memicu keausan lebih cepat pada komponen pengereman dan mengganggu kenyamanan berkendara.

3. Jangan Membawa Beban Berat atau Boncengan Berlebihan di Masa Inreyen

Advertisements

Beban berlebih memberi tekanan ekstra pada mesin, transmisi, dan kaki-kaki.

Pada masa inreyen, sebaiknya hindari membawa muatan berat atau boncengan yang terlalu sering jika tidak mendesak.

Tujuannya agar mesin tidak dipaksa bekerja di batas atasnya ketika komponen masih menyesuaikan diri.

Kalau memang harus berboncengan, lakukan dengan gaya berkendara lebih halus dan hindari akselerasi mendadak.

Advertisements

4. Jangan memaksa putaran mesin tinggi terus-menerus

Walau setiap motor punya batas berbeda, prinsipnya sama: jangan memaksa motor baru bekerja di RPM tinggi secara konstan.

Berkendara dengan putaran tinggi terus-menerus saat fase awal berisiko meningkatkan gesekan dan temperatur kerja sebelum komponen mencapai kondisi optimal.

Lebih baik memvariasikan kecepatan dan menjaga ritme berkendara agar mesin bekerja dalam rentang yang lebih aman.

Advertisements

 

Pada akhirnya, inreyen masih perlu dilakukan, tetapi bentuknya bukan prosedur rumit.

Kuncinya adalah mengemudi lebih halus pada 500–1.000 km pertama, disiplin servis dan oli, serta menghindari kebiasaan ekstrem seperti gaspol, beban berat, dan pengereman agresif.

Jika dilakukan, motor baru lebih berpeluang punya performa yang stabil, komponen lebih awet, dan risiko gangguan di awal pemakaian bisa ditekan.

Advertisements

*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1

 

Share:
Editor: Anggi Rhaisa
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements