RADARLAMPUNG.CO.ID- Menghitung biaya harian motor listrik sebenarnya tidak rumit, kuncinya adalah tahu konsumsi energi per kilometer.
Satuan yang paling sering dipakai adalah kWh per km, dan rumusnya sederhana yaitu energi yang digunakan dalam kWh dibagi jarak tempuh dalam km.
Cara yang paling relevan untuk urusan biaya adalah mengukur energi yang benar benar kamu ambil dari listrik rumah saat mengecas, karena itulah yang muncul di token atau tagihan.
Praktiknya kamu bisa memakai alat ukur kWh meter colokan atau energy monitoring meter yang dipasang di jalur pengisian, lalu catat berapa kWh yang masuk saat baterai diisi ulang.
Langkahnya begini, Pastikan jarak tempuh tercatat rapi, bisa dari odometer motor atau dari aplikasi peta saat pulang pergi.
Setelah seharian dipakai, cas seperti biasa dan lihat angka energi yang terpakai pada kWh meter.
Lalu bagi angka kWh tersebut dengan total kilometer hari itu. Hasilnya adalah konsumsi energi per km, angka yang bisa kamu pakai untuk menghitung biaya harian dan biaya per km.
Contoh perhitungan yang gampang. Dalam satu hari kamu menempuh 40 km. Saat mengecas sampai kembali ke level awal, kWh meter menunjukkan energi masuk 1,6 kWh.
Konsumsi energinya berarti 1,6 dibagi 40, hasilnya 0,04 kWh per km. Rumus pembagian energi terhadap jarak ini sama dengan cara hitung konsumsi energi yang umum dipakai pada kendaraan listrik.
Berikutnya tinggal ubah ke rupiah dengan mengalikan kWh yang kamu pakai dengan tarif listrik per kWh.
Untuk acuan Triwulan I 2026 periode Januari sampai Maret 2026, beberapa tarif rumah tangga non subsidi yang banyak dipakai misalnya 900 VA Rp 1.352 per kWh dan 1.300 VA serta 2.200 VA Rp 1.444,70 per kWh.
Jika kamu memakai tarif Rp 1.444,70 per kWh dan energi ngecas harianmu 1,6 kWh, maka biaya hariannya sekitar Rp 2.311,52.
Kalau ingin biaya per km, tinggal bagi biaya harian dengan jarak tempuh. Dengan contoh 40 km, biayanya sekitar Rp 57 sampai Rp 58 per km.
Ada satu catatan penting yang sering bikin orang bingung. Mengukur dari kWh meter saat ngecas biasanya menghasilkan angka sedikit lebih besar dibanding energi yang benar benar dipakai motor saat jalan, karena ada rugi rugi pengisian.
Tetapi justru untuk menghitung biaya, cara ini paling realistis karena kamu membayar energi dari stop kontak, bukan energi teoritis di baterai.
Kalau kamu ingin estimasi cepat tanpa kWh meter, kamu bisa pakai metode kasar dari kapasitas baterai dibagi jarak tempuh, lalu dijadikan patokan awal.
Misalnya contoh perhitungan umum kWh dibagi km akan menghasilkan kWh per km, tetapi metode ini tetap perkiraan karena tidak memasukkan variasi beban, kecepatan, tanjakan, dan kebiasaan berkendara.
Supaya hasilmu stabil, lakukan pengukuran minimal tiga kali pada pola rute yang mirip, lalu ambil rata ratanya.
Setelah itu kamu akan punya angka konsumsi energi per km yang bisa dipakai setiap hari, dan tinggal dikalikan jarak tempuh untuk mengira ngira biaya mingguan dan bulanan dengan lebih percaya diri.
*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1