RADARLAMPUNG.CO.ID — Respons cepat dan terbuka Pemerintah Kabupaten Lampung Timur dalam menyikapi aksi kreatif warga bertajuk “Wisata Telaga Semu” di Kecamatan Purbolinggo menuai apresiasi kalangan akademisi.
Fenomena viral itu dinilai bukan sekadar sindiran, melainkan bentuk partisipasi publik yang konstruktif dalam mendorong perbaikan infrastruktur jalan.
Dosen Institut Teknologi Sumatera (Itera), IB Ilham Malik, menilai peristiwa tersebut sebagai contoh baik jurnalisme warga yang membantu pemerintah memperoleh gambaran riil kondisi lapangan.
“Informasi dari masyarakat, baik berupa foto maupun video, merupakan data awal yang sangat bermanfaat," ujar Ilham.
Menurutnya hal ini dapat membantu pemerintah mengetahui titik-titik kerusakan jalan yang menjadi perhatian publik dan membutuhkan penanganan.
Menurut dia, langkah pemerintah daerah yang menindaklanjuti aspirasi warga melalui identifikasi dan pemetaan kerusakan menunjukkan keterbukaan terhadap partisipasi masyarakat.
Dokumentasi visual yang beredar di media sosial, kata Ilham, dapat menjadi checklist awal dalam menyusun prioritas perbaikan.
“Dengan dokumentasi visual yang disertakan warga, pemerintah bisa memperkirakan tingkat kerusakan dan jenis penanganan yang dibutuhkan," jelas Ilham.
Dirinya menekankan pentingnya jurnalisme warga dalam memperkuat transparansi dan akuntabilitas.
Informasi yang tersebar luas menciptakan mekanisme checks and balances yang sehat, karena tidak hanya diketahui pemerintah dan warga setempat, tetapi juga publik secara lebih luas.
Ia mendorong agar pemerintah daerah memperkuat kapasitas internal dengan membentuk tim teknis yang responsif serta membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi dan kalangan profesional.
"Kolaborasi ini memungkinkan estimasi awal kebutuhan anggaran secara lebih objektif. Kepala daerah pun memiliki gambaran yang lebih utuh sebelum peninjauan lapangan,” katanya.
Aksi protes warga atas jalan rusak parah di Kecamatan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur, sebelumnya viral lewat sindiran “Telaga Sewu”.
Papan bertuliskan “Grand Opening Telaga Sewu Purbolinggo Lampung Timur” terpasang di kubangan jalan yang tergenang air, memantik perhatian warganet.
Namun di balik satire itu, lahir gerakan gotong royong komunitas.
Komunitas Sosial Bagong Mogok bersama relawan dan donatur turun langsung menimbun lubang-lubang besar yang membahayakan pengguna jalan.
Material dikumpulkan secara swadaya, tenaga dikerahkan tanpa pamrih.
Ketua Korda Bagong Mogok Lampung Timur, Santa, mengatakan aksi tersebut berangkat dari kegelisahan warga yang setiap hari melintasi jalur penghubung Purbolinggo menuju Kota Metro dan Sukadana.
“Kami melihat sendiri anak-anak bermain di genangan karena sudah seperti kolam. Itu bukan hanya ironi, tapi tanda bahwa kondisinya sudah sangat memprihatinkan," ujar Santa.
Video kondisi jalan yang dipenuhi lubang besar sebelumnya menyebar cepat di media sosial. Julukan “Telaga Sewu” menjadi simbol kekecewaan atas lamanya perbaikan yang dinanti masyarakat.
Karena menyangkut anggaran yang minim sehingga pemerintah daerah harus berfikir keras untuk mengevaluasi kembali segala kebutuhan prioritas dalam pembangunan wilayah.