BANDAR LAMPUNG-Institut Teknologi Sumatera (Itera) melalui KKN Tematik menghadirkan inovasi teknologi tepat guna di Desa Negeri Sakti, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran.
Sebanyak 25 mahasiswa Itera mengusung program unggulan bertajuk VIONA (Vision of Night Automation) yang berfokus pada penerapan lampu penerangan jalan otomatis berbasis sensor cahaya.
Program ini lahir dari hasil survei lapangan yang menemukan masih banyak lampu jalan desa yang tidak berfungsi dan minim penerangan di sejumlah titik.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN merancang solusi berupa pemasangan lampu dengan teknologi photocell, yakni sensor cahaya yang mampu menyalakan lampu secara otomatis saat gelap dan mematikannya kembali ketika terang.
Perwakilan Program VIONA, Pugar Sampoerno, menjelaskan bahwa inovasi ini dirancang untuk efisiensi dan kemudahan masyarakat.
“Karena photocell bekerja otomatis, menyala saat malam dan mati di siang hari, ini jauh lebih efisien dari segi waktu dan listrik.
Warga tidak perlu lagi repot menyalakan atau mematikan lampu secara manual,” ujarnya.
Sebanyak 22 unit lampu otomatis berhasil dipasang di delapan dusun. Proses pemasangan dilakukan bertahap setelah mahasiswa melakukan survei titik-titik yang membutuhkan perbaikan penerangan.
“Kami mulai dari survei lokasi yang banyak lampunya tidak berfungsi. Dari situ kami mencari solusi yang tepat. Untuk kendala di lapangan, alhamdulillah tidak ada yang berarti,” tambah Pugar.
Senada, Humas KKN Tematik 30 Itera, R. Adam Zasya Yudho Ghiffari, menegaskan bahwa inovasi VIONA tidak membutuhkan kondisi khusus sehingga dapat diterapkan di berbagai wilayah.
“Pada dasarnya semua desa membutuhkan penerangan yang baik. VIONA ini bisa diterapkan di desa lain karena tidak memerlukan kondisi spesifik. Selain itu, penerapan teknologi ini juga meminimalisir biaya dan tenaga untuk mematikan maupun menyalakan lampu,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa dampak inovasi mulai dirasakan masyarakat. Kehidupan malam di beberapa titik dusun menjadi lebih aktif dan warga merasa lebih aman.
“Respon masyarakat sangat positif. Awalnya ada kekhawatiran karena gelap, tapi setelah ada penerangan, warga merasa lebih aman,” katanya.
Dari sisi perawatan, sistem ini tergolong sederhana. Lampu bekerja otomatis tanpa pengaturan manual, sehingga hanya membutuhkan penggantian apabila lampu sudah tidak berfungsi.
Ke depan, mahasiswa berharap inovasi ini mendorong peningkatan literasi teknologi di desa.
“Harapannya masyarakat semakin melek teknologi. Sebenarnya lampu dengan sensor sudah banyak, namun literasi dan sosialisasinya masih kurang,” tutup Adam.