Usai Lebaran 2026, BYD Mulai Produksi Lokal di RI, Pemerintah Ungkap Merek Lain Menyusul!

gambar-user/vsbaohl95I0rY7S5BRF4IPxfUmd3n0dZuZDBnGyU.webp
M. Nabil Mamnun - Minggu, 08 Feb 2026 - 13:59 WIB
Pabrik EV di Subang jadi sorotan, BYD diklaim siap mulai produksi setelah Lebaran
Pabrik EV di Subang jadi sorotan, BYD diklaim siap mulai produksi setelah Lebaran - instagram/@byd_indonesia

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

RADARLAMPUNG.CO.ID- Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menyatakan sejumlah pabrikan kendaraan listrik siap memulai produksi lokal setelah Lebaran 2026 yang diperkirakan jatuh pada akhir Maret.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin Setia Diarta menegaskan kesiapan tersebut berjalan seiring dengan arah kebijakan pengembangan kendaraan listrik nasional yang menekankan penguatan industri di dalam negeri.

Setia menjelaskan, investasi para produsen kendaraan listrik mengacu pada Peta Jalan Kendaraan Listrik Nasional yang ditopang Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023 beserta aturan turunannya, yaitu Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 28 Tahun 2023.

Ketentuan itu, menurutnya, mewajibkan pemenuhan tingkat komponen dalam negeri sebesar 40 persen pada 2026 yang akan meningkat bertahap pada periode berikutnya.

Advertisements

Konsekuensinya, produsen kendaraan listrik dituntut segera merealisasikan produksi lokal pada tahun ini agar selaras dengan target TKDN yang ditetapkan.

Dalam acara EVolution Indonesia Forum 2026 pada Selasa 3 Februari 2026, Setia menyatakan program pemerintah masih berada di jalur yang direncanakan.

Ia menyebut sebagian mekanisme investasi yang ditawarkan sudah diwujudkan pelaku industri.

Ia juga mencontohkan investasi VinFast yang sudah memiliki fasilitas dan lahan pabrik, serta memastikan BYD akan masuk fase produksi dalam waktu dekat.

Advertisements

“Sampai saat ini, program berjalan sesuai rencana. Mekanisme investasi yang ditawarkan kepada sejumlah pabrikan sudah terealisasi. VinFast, misalnya, telah memiliki pabrik dengan lahan seluas 171 hektare, BYD juga akan segera memulai produksi setelah Lebaran,” ujar Setia.

Berdasarkan rencana yang telah disampaikan sebelumnya, BYD menargetkan pengoperasian fasilitas produksinya di Indonesia pada kuartal I 2026.

Investasi pabrik itu disebut sekitar Rp11,2 triliun dengan kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun.

Dengan momentum setelah Lebaran, pemerintah melihat realisasi awal produksi BYD berpeluang menjadi penanda dimulainya tahap baru penguatan manufaktur kendaraan listrik di Indonesia.

Advertisements

Sementara itu, VinFast dilaporkan telah merealisasikan investasi lebih dari US$300 juta dengan kapasitas produksi awal sekitar 50.000 unit per tahun.

Fasilitas manufakturnya di Subang berdiri di atas lahan 171 hektare.

VinFast juga menyampaikan komitmen meningkatkan investasinya secara bertahap hingga mencapai US$1 miliar atau setara Rp16 triliun.

Pada tahap lanjutan, kapasitas produksinya ditargetkan meningkat menjadi 350.000 unit per tahun untuk memenuhi pasar domestik sekaligus membuka peluang ekspor.

Advertisements

Kemenperin menegaskan bahwa percepatan produksi lokal tidak hanya mengandalkan dua merek tersebut.

Setia menyebut ada pabrikan lain yang sebelumnya masih melakukan impor IKD karena sebagian komponen belum tersedia di dalam negeri, tetapi kini mulai masuk tahap pemenuhan komponen dan bersiap meningkatkan aktivitas manufaktur.

“Beberapa merek lain yang sebelumnya melakukan impor IKD, karena ada komponen yang belum diproduksi di dalam negeri, juga sudah mulai masuk. Setelah Lebaran ini, mereka juga akan berproduksi penuh,” jelasnya.

Daftar pelaku yang telah memanfaatkan insentif impor antara lain BYD, Geely, VinFast, serta PT National Assembler yang menaungi Citroen, Aion, Maxus, dan Volkswagen.

Advertisements

Total investasi dari para pelaku tersebut disebut mencapai sekitar Rp15,52 triliun, dengan kewajiban memulai produksi kendaraan listrik berbasis baterai secara lokal pada 2026.

Dorongan realisasi produksi ini juga ditopang pertumbuhan pasar, karena data Gaikindo mencatat distribusi wholesales mobil listrik murni sepanjang 2025 mencapai 103.931 unit, melonjak 140,64 persen secara tahunan dari 43.188 unit pada 2024.

Di tengah percepatan itu, Kemenperin menekankan pentingnya menjaga daya saing industri melalui dukungan yang tetap terbuka bagi berbagai teknologi elektrifikasi selama sejalan dengan arah penurunan emisi.

“Semangatnya adalah low carbon emission vehicles. Jadi, apa pun jenis teknologinya, selama sejalan dengan rendah emisi, akan didukung pemerintah, termasuk BEV,” pungkas Setia.

Advertisements

*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1

 

 

Advertisements

Share:
Editor: Anggi Rhaisa
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements