RADARLAMPUNG.CO.ID — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi El Nino yang diprediksi membawa musim kemarau lebih panjang dan panas tahun ini.
Analis Kebencanaan BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat mengatakan, kondisi tersebut berpotensi memicu bencana hidrometeorologi kering, mulai dari kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Panas tahun ini diprediksi akan berlangsung lebih panjang dan lebih panas. Untuk itu kami mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman hidrometeorologi kering,” ujarnya saat diwawancarai di Bandarlampung (6/4).
Ia menjelaskan, salah satu langkah penting yang perlu dilakukan masyarakat adalah pengelolaan air secara bijak.
Hal ini guna memastikan ketersediaan air bersih dan air minum tetap terpenuhi selama musim kemarau.
“Perlu ada manajemen air, supaya kebutuhan air minum dan air bersih tetap terpenuhi,” katanya.
Selain itu, potensi karhutla juga menjadi perhatian serius, BPBD mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, peran masyarakat dalam deteksi dini titik api dinilai sangat penting terutama saat puncak musim kemarau.
“Nanti saat puncak kemarau, perlu ada siskamling lagi untuk membantu mendeteksi titik api lebih awal,” jelasnya.
Dalam upaya antisipasi, BPBD Provinsi Lampung terus berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, Tim Reaksi Cepat (TRC), serta Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) dan berbagai stakeholder terkait.
“Koordinasi terus kita lakukan karena ini diprediksi lebih panas dan lebih panjang,” ujarnya.
Selain himbauan, BPBD juga akan mengoptimalkan peran desa tangguh bencana (Destana) di wilayah rawan bencana Hidrometrologi kering.
Destana diharapkan dapat membantu fungsi pengawasan, khususnya dalam memonitor potensi titik api di lapangan.
“Ke depan kita akan menggerakkan Destana di daerah rawan untuk membantu monitoring, termasuk pengawasan titik api,” katanya.
Terkait wilayah rawan, Wahyu menyebut hampir seluruh daerah di Lampung berpotensi terdampak kekeringan.
Namun, beberapa wilayah perlu mendapat perhatian serius karena memiliki riwayat kebakaran hutan dan lahan pada tahun sebelumnya.
“Seperti sebagian Lampung Timur, khususnya kawasan Taman Nasional Way Kambas, kemudian Way Kanan dan Mesuji, itu wilayah yang punya potensi kebakaran cukup tinggi,” ungkapnya.
BPBD juga telah menjalin komunikasi lintas daerah, termasuk dengan BPBD Sumatera Selatan, untuk mengantisipasi kemungkinan karhutla skala besar. Salah satu opsi yang disiapkan adalah dukungan water bombing dengan menggunakan helikopter.
“Kita sudah komunikasi dengan BPBD Sumsel. Jika diperlukan, kita bisa minta bantuan water bombing karena helikopter standby di sana,” jelasnya.
Berdasarkan prakiraan, periode kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung cukup panjang, yakni sekitar lima hingga enam bulan, terhitung sejak April hingga September.
Meski belum ada kepastian terkait suhu maksimum, Wahyu mengakui adanya potensi peningkatan suhu ekstrem.
“Belum ada angka pastinya, tapi ada kemungkinan tahun ini menjadi salah satu yang terpanas,” katanya.
Sebagai langkah tambahan, BPBD juga membuka peluang pelaksanaan operasi modifikasi cuaca untuk memicu hujan di wilayah terdampak kekeringan.
Selain itu, masyarakat juga dihimbau untuk meningkatkan ikhtiar, termasuk melalui doa bersama. “Kita juga membuka peluang modifikasi cuaca, dan mengimbau masyarakat, termasuk umat Islam, untuk melaksanakan salat istisqa jika diperlukan,” pungkasnya.