BANDAR LAMPUNG- Aktivitas belajar mengajar di SMAN 6 Bandar Lampung dipastikan tetap berjalan normal pasca munculnya dugaan keracunan massal yang melibatkan ratusan siswa dan guru usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (22/4) lalu.
Meski sempat mengalami gangguan kesehatan, pihak sekolah memastikan kondisi para siswa dan guru telah pulih. Hingga Senin (27/4), suasana di sekolah yang berlokasi di wilayah Panjang tersebut tampak kondusif tanpa ada kendala operasional pendidikan.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana SMAN 6 Bandar Lampung, Herman, menegaskan bahwa dampak dari kejadian tersebut tidak sampai mengganggu kalender akademik sekolah. Sehari setelah kejadian, tepatnya pada Kamis (23/4), aktivitas sekolah telah pulih sepenuhnya.
"Siswa-siswi dan guru sudah masuk seperti biasa. Kondisi mereka yang terdampak masuk kategori ringan hingga sedang, hanya mual dan diare saja. Tidak ada yang pingsan atau harus menjalani rawat inap, sehingga pemulihan berjalan cepat," ungkap Herman saat memberikan keterangan, Senin (27/4).
Herman mengklarifikasi bahwa total warga sekolah yang terdampak mencapai 172 orang, terdiri dari 147 siswa dan 25 guru. "Semua sudah tertangani dan kini kembali beraktivitas normal," tambahnya.
Di sisi lain, Camat Panjang, Hendry, juga memantau langsung kondisi di lapangan menyatakan bahwa meski aktivitas sekolah berjalan normal, aspek pengawasan terhadap penyedia makanan menjadi perhatian serius.
Saat ini, operasional dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) yang menjadi penyedia makanan dihentikan sementara untuk proses evaluasi dan investigasi lebih lanjut oleh Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat.
"Penghentian ini dilakukan untuk keperluan evaluasi dan investigasi lebih lanjut oleh Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat. Kami memastikan proses pendidikan tidak boleh terhambat, namun kesehatan siswa tetap prioritas utama. Sembari menunggu hasil evaluasi terhadap dapur penyedia, pemantauan terhadap kesehatan siswa terus kami lakukan bersama pihak terkait," jelas Hendry.
Hendry juga mengingatkan seluruh penyedia makanan di wilayah Kecamatan Panjang untuk memperhatikan higienis dari produk yang di hasilkan, disiplin menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP), termasuk kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan instalasi pengolahan limbah (IPAL).
"Karena sesuai instruksi Pemerintah Pusat bahwa seluruh Dapur MBG atau SPPG memiliki SLHS dan IPAL,"jelas Hendry
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang masih melakukan pendalaman terkait penyebab pasti insiden tersebut melalui uji laboratorium sampel makanan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi A. Temenggung, menjelaskan bahwa dari total 812 penerima MBG di SMAN 6, sekitar 26 persen mengalami gejala keracunan.
Berdasarkan inspeksi kesehatan lingkungan di dapur SPPG Way Lunik pada Kamis (23/4), tim Dinkes menemukan sejumlah catatan krusial yang harus diperbaiki
Pertama, fasilitas Sanitasi belum tersedianya alat pengering tangan, sabun, dan tempat sampah yang memadai.
Manajemen Limbah pengelolaan limbah makanan masih dilakukan di dalam area dapur sehingga memicu bau dan potensi lalat.
Standar Fasilitas belum ada pemisahan toilet pria dan wanita yang jelas.
Serta, penerapan SOP pengolahan pangan dan keselamatan kerja belum terlihat jelas di lokasi.
"Meski hasil uji sampel air dan usap peralatan dinyatakan memenuhi syarat kesehatan, poin-poin sanitasi tersebut wajib diperbaiki. Kami sudah melayangkan surat teguran," ungkap Muhtadi.
Hingga saat ini, pihak berwenang masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan untuk menentukan penyebab pasti insiden tersebut.
Berdasarkan rekomendasi tim lapangan, Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi menutup sementara aktivitas SPPG Way Lunik hingga batas waktu yang belum ditentukan.