RADARLAMPUNG.CO.ID - Memasuki 2026, industri mobil listrik China diperkirakan memasuki fase seleksi alam.
Dalam laporan South China Morning Post (SCMP) terungkap bahwa sekitar 50 produsen kendaraan listrik di China yang masih merugi berada di bawah tekanan untuk mengurangi skala produksi atau bahkan keluar dari bisnis pada 2026.
SCMP menjelaskan tekanan itu muncul ketika pertumbuhan pasar melemah dan dukungan kebijakan mulai menyusut, sehingga perusahaan-perusahaan yang belum mencapai titik impas akan semakin sulit bertahan di tengah perang harga.
Laporan SCMP tersebut juga mengutip proyeksi dari Deutsche Bank dan JPMorgan yang memperkirakan penjualan kendaraan di China secara keseluruhan dapat turun sekitar 3% hingga 5%.
Jika penurunan penjualan benar terjadi, itu akan menjadi fenomena yang relatif jarang dan makin memperberat situasi produsen mobil listrik yang selama ini masih membakar uang demi mengejar volume.
Tekanan industri itu makin kentara karena sinyal perlambatan tidak hanya dirasakan pemain kecil.
Reuters pada 1 Januari 2026 melaporkan bahwa BYD, pemimpin pasar EV China, mencatat pertumbuhan penjualan tahunan yang disebut sebagai yang paling lemah dalam lima tahun.
Penjualan BYD sepanjang 2025 naik 7,73% menjadi 4,6 juta unit, tetapi penjualan pada Desember 2025 turun 18,3% secara tahunan yang disebut sebagai penurunan bulanan terbesar dalam hampir dua tahun.
BYD menurunkan target penjualan tahunan sekitar 16%, mengurangi output, dan menunda sebagian rencana ekspansi, sebuah indikator bahwa kompetisi domestik semakin berat bahkan bagi pemimpin pasar.
Sementara itu, Tech in Asia juga mengangkat isu yang sama, bahwa puluhan produsen EV China menghadapi ancaman serius pada 2026 karena pertumbuhan industri melambat dan insentif pemerintah berakhir atau menyusut.
Tech in Asia menekankan bahwa kompetisi harga yang ekstrem membuat banyak pemain tidak mampu menutup biaya produksi dan pengembangan, sehingga 2026 berpotensi menjadi tahun konsolidasi.
SCMP turut menyoroti faktor kebijakan sebagai salah satu penekan permintaan, terutama ketika sebagian insentif fiskal menurun dan beban biaya pembelian menjadi lebih tinggi dibanding periode sebelumnya.
Ketika insentif berkurang, konsumen yang sensitif terhadap harga cenderung menunda pembelian, sementara produsen dipaksa memberi diskon lebih besar untuk menjaga volume.
Kombinasi yang makin memperkecil peluang merek merugi untuk bertahan.
Jika rangkaian indikator tersebut terjadi bersamaan, 2026 akan menjadi tahun yang mempercepat “seleksi alam” industri EV China.
Pasar yang selama ini dipenuhi banyak merek akan bergerak menuju struktur yang lebih terkonsentrasi di segelintir pemain kuat.
Prediksi SCMP tentang sekitar 50 produsen EV yang masih merugi berpotensi ciut atau keluar.
Kemudian ditambah gambaran mengenai perlambatan BYD dan kutipan SCMP atas proyeksi penurunan pasar dari Deutsche Bank dan JPMorgan.
Berdasarkan prediksi tersebut, menunjukkan bahwa pergantian tahun ini bukan sekadar pergantian kalender, tetapi momen penentuan bagi industri mobil listrik terbesar di dunia.
*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1